Arab Saudi Bantah Lobi Trump Serang Iran, Tegaskan Pilih Jalur Diplomasi di Tengah Eskalasi
VISI.NEWS | BANDUNG – Di tengah memanasnya situasi Timur Tengah pascaserangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke Iran, Pemerintah Arab Saudi secara terbuka membantah rumor bahwa Riyadh berada di balik keputusan militer tersebut. Tudingan yang menyebut Saudi melobi Presiden AS agar menyerang Teheran ditepis tegas oleh perwakilan resmi kerajaan.
Isu ini mencuat setelah laporan media AS, The Washington Post, yang mengutip empat sumber anonim dan menyebut adanya lobi diam-diam dari Saudi kepada Presiden Donald Trump dalam beberapa minggu bahkan bulan terakhir sebelum serangan terjadi. Laporan itu kemudian dikutip sejumlah media internasional, termasuk Al Arabiya, yang memuat bantahan resmi dari pihak Saudi.
Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington menegaskan bahwa kerajaan tidak pernah mendorong kebijakan militer terhadap Iran. Juru bicara Kedubes Saudi, Fahad Nazer, menyampaikan klarifikasi melalui media sosial X.
“Kerajaan Arab Saudi telah konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran,” ujar Nazer.
Ia menambahkan dengan tegas, “Tidak pernah dalam seluruh komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami melobi Presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda.”
Bantahan ini menjadi penting karena posisi Saudi selama beberapa tahun terakhir dinilai lebih berhati-hati dalam menghadapi ketegangan kawasan. Riyadh, bersama sejumlah negara Teluk, disebut berupaya mencegah konfrontasi militer terbuka yang dapat memperluas konflik di Timur Tengah.
Sinyal itu juga pernah ditegaskan langsung oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang dikenal sebagai penguasa de-facto Arab Saudi. Dalam percakapan telepon pada 26 Januari lalu dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, MBS menegaskan bahwa wilayah udara maupun teritorial Saudi tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Namun situasi berubah drastis setelah serangan besar AS dan Israel pada Sabtu (28/2) waktu setempat. Operasi militer itu menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei, yang memimpin selama 36 tahun.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!