Apakah Makanan Bisa Meningkatkan Motivasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Desi Rossilawati
Sabtu, 24 Mei 2025 | 09:14 WIB
Bagikan
Apakah Makanan Bisa Meningkatkan Motivasi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
VISI.NEWS | BANDUNG - Apakah mungkin makanan yang kita konsumsi mempengaruhi motivasi? Bukan sekadar mitos, sains mulai menunjukkan bahwa hubungan antara asupan nutrisi dan dorongan untuk bertindak bisa jadi lebih erat dari yang kita bayangkan. Pernahkah Anda merasa tidak bersemangat tanpa alasan yang jelas? Bisa jadi, jawabannya tersembunyi di dalam makanan Anda. Kelompok Sandi, bersama rekan-rekannya di Nestlé Institute of Health Sciences, kini telah menerbitkan sebuah penelitian yang memberikan cahaya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penelitian ini mencari keterkaitan antara kadar glutathione (GSH), salah satu antioksidan utama di otak, dan perilaku yang mencerminkan motivasi. GSH berperan penting dalam menjaga keseimbangan oksidatif di otak, dan ditemukan dalam kadar tinggi pada area nucleus accumbens bagian otak yang erat kaitannya dengan sistem penghargaan dan dorongan untuk berusaha. GSH merupakan antioksidan penting dalam otak yang berperan dalam melindungi sel dari stres oksidatif. Studi eksperimental terhadap tikus menemukan bahwa ketika kadar GSH di otak tepatnya di area nucleus accumbens yang terlibat dalam sistem penghargaan dan motivasi diturunkan, tikus menjadi kurang termotivasi. Mereka menunjukkan performa lebih buruk dalam tugas-tugas yang membutuhkan usaha untuk mendapatkan hadiah. Sebaliknya, ketika tikus tersebut diberikan suplemen nutrisi berupa N-asetilsistein (NAC), prekursor alami dari GSH, performa mereka meningkat secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa meningkatkan kadar GSH di otak dapat mendukung perilaku yang gigih dan penuh motivasi. Para peneliti menyimpulkan bahwa intervensi nutrisi semacam ini bisa menjadi salah satu pendekatan potensial untuk meningkatkan motivasi. Apa kaitannya dengan makanan kita? NAC dapat terbentuk di dalam tubuh dari sistein, suatu asam amino yang ditemukan dalam berbagai makanan tinggi protein. Tapi, dari mana kita mendapatkan N-asetilsistein atau prekursor alaminya, sistein? Menurut Sandi, Sistein terkandung dalam makanan yang mengandung protein tinggi, seperti daging, ayam, ikan, atau makanan laut. Sementara sumber lainnya dengan kandungan Sistein yang lebih rendah adalah telur, makanan gandum, serta beberapa sayuran seperti brokoli, bawang merah dan kacang-kacangan. Makanan yang Mengandung Sistein Melansir dari myfooddata, berikut daftar makanan yang kaya akan sistein dengan hitungan yang jelas, yang secara tidak langsung bisa membantu mendukung kadar GSH di otak: 1. Daging tanpa lemak (pork chop, steak, ayam) – Mengandung 571–595 mg sistein per porsi 6 oz 2. Ikan dan makanan laut (tuna, salmon, kerang) – 546 mg sistein per 6 oz tuna 3. Telur – 146 mg sistein per butir besar 4. Produk susu rendah lemak (yogurt, keju Swiss) – 127 mg sistein per cup yogurt rendah lemak 5. Lentil dan kacang-kacangan (edamame, chickpea) – 234 mg sistein per cup lentil matang 6. Biji bunga matahari dan kacang-kacangan lainnya – 109 mg sistein per 1 oz biji bunga matahari 7. Oatmeal dan gandum utuh – 227 mg sistein per cup oatmeal 8. Tofu dan produk nabati lainnya (teff, couscous) – Sekitar 144–174 mg sistein per cup 9. Sayuran tertentu (brokoli, wortel, bawang merah, jamur shiitake) – Kandungan lebih rendah, tetapi tetap bermanfaat 10. Selai kacang almond dan produk berbasis biji lainnya Manfaat Lain dari Sistein Selain mendukung motivasi melalui peningkatan kadar GSH, sistein juga dikenal memiliki manfaat lain seperti membantu detoksifikasi hati, mendukung kesehatan paru-paru san hati, menjaga kesehatan rambut dan kulit karena perannya dalam produksi keratin, memperkuat sistem imun dan mensintesis protein penting dalam tubuh. Lalu, Apakah Makanan Bisa Jadi Kunci Motivasi? Walau hasil studi pada hewan belum bisa langsung digeneralisasi pada manusia, temuan ini membuka pintu baru untuk menjelajahi hubungan antara nutrisi dan perilaku. Jadi, saat merasa tidak termotivasi, mungkin bukan hanya karena kurang tidur atau stres, tapi juga karena pola makan yang kurang mendukung kesehatan otak. Apakah ini berarti kita harus segera mengubah isi piring makan kita? Bisa jadi, jawabannya: ya.   Oleh: Dini Puspita Ramadhani

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.