Apa yang Bisa Diajarkan Hipnosis kepada Kita tentang Kecerdasan Buatan

ED
Rabu, 7 Januari 2026 | 08:46 WIB
Bagikan
Apa yang Bisa Diajarkan Hipnosis kepada Kita tentang Kecerdasan Buatan

VISI.NEWS | BANDUNG - Perbandingan antara hipnosis dan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan mengapa sistem yang tampak fasih tetap bisa tidak memiliki pemahaman—serta bagaimana model masa depan dapat mengatasi kesenjangan tersebut.

Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam Cyberpsychology, Behaviour, and Social Networking menyimpulkan temuan yang mencolok: ketika berada dalam kondisi hipnosis, otak manusia berperilaku dengan cara yang sangat mirip dengan cara kerja large language model (LLM) seperti ChatGPT. Temuan ini menantang anggapan lama tentang kesadaran dan memberikan wawasan penting bagi pengembangan kecerdasan buatan yang lebih aman dan andal.

Makalah ini ditulis oleh penulis artikel ini bersama Prof. Brenda K. Wiederhold dari Virtual Reality Medical Centre di San Diego dan Prof. Fabrizia Mantovani dari University of Milano-Bicocca. Mereka berpendapat bahwa pikiran yang terhipnosis dan LLM memiliki tiga karakteristik inti yang sama. Keduanya mengandalkan proses pelengkapan pola otomatis dan beroperasi tanpa pengawasan eksekutif yang kuat, sehingga mampu menghasilkan respons yang canggih tanpa benar-benar memahaminya.

Tiga Pilar Kesamaan

Pertama, kedua sistem menunjukkan apa yang oleh peneliti disebut sebagai dominasi otomatisitas. Dalam kondisi hipnosis, otak beralih ke mode otomatis, memberikan jawaban berdasarkan naluri dan asosiasi cepat, bukan melalui pemikiran sadar yang cermat.

Pencitraan otak menunjukkan peningkatan aktivitas di wilayah sensorik dan motorik, sementara area kontrol—bagian otak yang biasanya digunakan untuk berpikir sadar, merenung, merencanakan, dan mengendalikan tindakan—menjadi kurang aktif. Demikian pula, LLM mengandalkan pencocokan pola statistik, memprediksi urutan kata dari data pelatihan tanpa kemampuan bernalar secara mandiri.

Kedua, keduanya menunjukkan penurunan pemantauan eksekutif. Selama hipnosis, dorsal anterior cingulate cortex—pusat deteksi kesalahan di otak—menjadi kurang aktif. Hal ini menjelaskan mengapa individu yang terhipnosis dapat menerima kontradiksi atau ingatan palsu dengan penuh keyakinan. LLM memiliki kerentanan serupa: mereka dapat menghasilkan “halusinasi” dengan keyakinan tinggi karena tidak memiliki mekanisme internal untuk mengevaluasi keluaran mereka sendiri. Seperti dicatat para penulis, kedua sistem ini “menggabungkan kefasihan yang luar biasa dengan kerentanan khas”.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.