Aktivis Neni Nur Hayati Alami Serangan Digital Usai Kritisi Buzzer Politik
Menurut Neni, tindakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat sangat disayangkan karena alih-alih menghargai kritik, justru menciptakan suasana represif yang membungkam kebebasan berekspresi. “Kebebasan berpendapat adalah fondasi demokrasi. Jika ruang ini ditutup, maka yang tersisa hanya otoritarianisme,” ujarnya sambil mengutip pemikiran Alexis de Tocqueville dan Daron Acemoglu soal pentingnya peran masyarakat sipil.
Neni juga mengungkap bahwa ia merasa dipantau secara intens di media sosial, dan bahkan merasa ada upaya peretasan akun yang dilakukannya. “Ini bukan hanya soal saya, tapi soal kondisi demokrasi kita yang sedang berada di titik rawan,” tegasnya. Ia meminta agar semua pihak, khususnya pemerintah, tidak menggunakan kekuasaan untuk mengintimidasi suara-suara kritis.
Sebagai aktivis demokrasi, Neni menilai bahwa keterlibatan masyarakat sipil dalam mengawasi jalannya pemerintahan adalah bagian dari proses demokratis yang sehat. Ia berharap kejadian ini menjadi momentum refleksi bagi seluruh pihak agar kembali pada semangat reformasi dan penghormatan terhadap kebebasan sipil.
“Saya tidak takut, tapi saya sedih,” pungkas Neni. “Sedih karena perjuangan panjang bangsa ini untuk keluar dari era gelap kebebasan ternyata belum selesai. Mari kita jaga demokrasi, jangan biarkan kekuasaan melupakan siapa yang sebenarnya mereka wakili.”
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!