Aktivis Muda Indonesia Bangun Gerakan di Hutan Amazon, Siap Guncang COP 30

ED
Kamis, 9 Oktober 2025 | 13:18 WIB
Bagikan
Aktivis Muda Indonesia Bangun Gerakan di Hutan Amazon, Siap Guncang COP 30

Kesamaan nasib inilah yang menumbuhkan rasa solidaritas lintas benua: perjuangan masyarakat adat bukan sekadar isu lokal, tetapi isu global yang harus diperjuangkan bersama.

Dari berbagai isu yang muncul, peserta sepakat bahwa pendanaan iklim akan menjadi fokus utama yang didorong di COP 30. “Aku kaget juga ketika tahu bahwa teman-teman sangat tertarik pada isu pendanaan iklim, karena ternyata banyak yang belum memahami benar cara untuk mendapatkan pendanaan tersebut. Apalagi, isu pendanaan iklim memang kompleks,” kata Momo.

Isu ini berkaitan erat dengan masyarakat adat. Dana yang seharusnya mengalir untuk mendukung komunitas di garis depan justru sering berhenti di tingkat birokrasi atau organisasi besar. Diskusi pun berkembang pada dua istilah penting: territorial autonomy (hak masyarakat adat untuk mengatur wilayahnya sendiri) dan historical reparation (kompensasi atas ketidakadilan sejarah yang mereka alami.)

“Ini istilah yang baru aku dengar. Territorial autonomy adalah tentang bagaimana masyarakat adat punya otonomi sendiri untuk mengurus dan mengelola wilayah adatnya. Sedang historical reparation adalah tentang bagaimana mereka selama ini mengalami ketidakadilan secara historis dan mereka seharusnya mendapatkan kompensasi. Ini sesuatu yang penting untuk dibahas,” jelas Momo.

Berjumpa Pemimpin Legendaris Amazon

Pertemuan di Desa Mupa tidak hanya berakhir pada diskusi. Anak-anak muda itu merancang aksi nyata yang akan mencuri perhatian dunia saat COP 30 berlangsung.

“Di COP 30 kami berusaha merebut ruang dan perhatian media dengan menggelar aksi ‘keributan’ yang ramai dan kreatif. Misalnya, fashion show yang memamerkan baju adat atau pakaian yang mewakili wilayah masing-masing. Kalau aksi tersebut tampak bagus secara visual dan narasi, pasti kami bisa merebut perhatian media. Sementara itu, untuk melibatkan massa lebih besar, ada gagasan untuk menggelar long march, sekaligus mengangkat isu yang sedang terjadi di Brazil,” ungkap Momo.

Strategi ini diambil karena ruang formal di forum global seringkali terbatas untuk masyarakat sipil. Aksi kreatif dianggap sebagai cara efektif untuk menarik sorotan media dan membuka akses ke meja perundingan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.