Aktivis Muda Indonesia Bangun Gerakan di Hutan Amazon, Siap Guncang COP 30

ED
Kamis, 9 Oktober 2025 | 13:18 WIB
Bagikan
Aktivis Muda Indonesia Bangun Gerakan di Hutan Amazon, Siap Guncang COP 30

VISI.NEWS | JAKARTA - Sekitar 80 anak muda dari berbagai negara tidur di hammock, berdiskusi di tepi sungai, dan berkonsolidasi di hutan Mato Grosso, Brazil. Dari tempat sederhana tanpa dinding itu, mereka merancang strategi menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP 30) yang akan digelar November mendatang di Belem.

Pertemuan ini bertajuk Co-Creation Meeting For The Campaign Alliance of Peoples For The Climate. Selama beberapa hari, para peserta saling bertukar ide, membangun solidaritas, dan menyiapkan aksi kreatif untuk merebut perhatian dunia di panggung COP 30.

Stanislaus Demokrasi Sandyawan, Wakil Direktur Climate Rangers Jakarta, merasakan sendiri betapa magisnya berdiskusi tentang alam di alam bebas, alam yang sedang diperjuangkan kelestariannya.

Stanislaus, atau yang akrab disapa Momo, adalah satu dari hanya dua peserta asal Asia. “Ada, sih, dari luar Brazil, tetapi mereka pun dari negara Amerika Latin, seperti Meksiko, Panama, dan Ekuador. Dari Asia hanya aku dan seorang delegasi dari Lebanon. Mereka diundang untuk ikut dalam menyempurnakan aksi bersama,” cerita Momo.

Meski datang dari jauh, Momo merasa disambut dengan antusias. Ia menyadari bahwa jejaring aktivis muda di Amerika Latin sangat kuat. “Kita bisa belajar dari komunitas mereka yang sudah sangat mature. Gerakan yang mereka bangun dipimpin oleh leader yang masih muda, sekitar umur 30-an. Meski begitu, mereka sudah berani mengambil langkah untuk memperjuangkan isu mereka,” kata Momo.

Brazil Punya Kementerian Masyarakat Adat

Diskusi panjang yang berlangsung Agustus lalu itu membuat Momo menemukan banyak kesamaan antara Indonesia dan Amerika Latin, terutama soal masyarakat adat. “Saat ini mereka melawan pemerintah dan perusahaan dalam mempertahankan wilayah adat. Serupa, kan, dengan yang dialami masyarakat adat di Indonesia,” kata Momo.

Bedanya, dilihat dari sektor perkebunan, lawan utama masyarakat adat di Indonesia adalah perkebunan kelapa sawit, sedangkan di Brazil lebih banyak pada perkebunan kedelai, yang hampir tidak pernah ditemukan di Indonesia. Menariknya, Brazil bahkan sudah memiliki Kementerian Masyarakat Adat, yang membuat pengakuan negara terhadap hak-hak adat relatif lebih kuat dibanding Indonesia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.