10 Hari Pertama Ramadhan, Lia Istifhama: Momentum Audit Moral dan Penguatan Integritas
VISI.NEWS | JAKARTA - Sepuluh hari pertama Ramadhan 1447 Hijriah dimaknai secara mendalam oleh Anggota DPD RI, Lia Istifhama. Bagi senator asal Jawa Timur tersebut, Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga ruang refleksi spiritual sekaligus sosial, khususnya bagi para pemegang amanah publik.
Di tengah berbagai agenda kebangsaan yang padat di Surabaya dan daerah lainnya, Lia memilih menjadikan awal Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri serta memperkuat etika dalam melayani masyarakat. Hal itu ia sampaikan dalam berbagai kegiatan, mulai dari buka puasa bersama, santunan anak yatim, hingga silaturahmi dengan tokoh masyarakat.
Dalam setiap kesempatan, Lia kerap mengangkat pesan-pesan hadis Nabi sebagai landasan moral. Salah satunya hadis riwayat Tirmidzi yang menyebutkan bahwa bagian dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.
Menurut Lia, pesan tersebut sangat relevan bagi pejabat publik di tengah dinamika kehidupan berbangsa saat ini.
“Ramadan ini momentum untuk fokus pada kerja nyata. Tinggalkan polemik yang tidak produktif dan perbanyak kontribusi yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui tausiyah yang juga ia bagikan di media sosial, Lia mengingatkan hadis tentang orang yang bangkrut di hari kiamat (HR Muslim). Dalam hadis itu dijelaskan bahwa seseorang bisa datang membawa pahala ibadah yang banyak, tetapi habis karena semasa hidupnya menyakiti orang lain.
“Jangan sampai kita rajin ibadah, tetapi justru melukai orang lain dengan ucapan maupun tindakan,” tegasnya.
Bagi Lia, Ramadan merupakan momentum “audit moral” tahunan, terutama bagi mereka yang memegang amanah publik. Ia menilai kualitas kepemimpinan tidak hanya diukur dari kebijakan, tetapi juga dari akhlak dan cara memperlakukan sesama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!