1 Syawal 1447 H: Kemenag Ungkap Potensi Perbedaan Idul Fitri 2026
VISI.NEWS | JAKARTA - Direktur Urusan Agama Islam Kemenag RI, Arsad Hidayat, menanggapi terkait kemungkinan besar adanya perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah antara Pemerintah dengan Muhammadiyah.
Hal ini disebabkan posisi hilal pada akhir Ramadhan 1447 H yang berdasarkan perhitungan hisab, masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura).
"Jadi kalau berdasarkan hitungan hisab, untuk ketinggian itu 0 sampai 3 derajat, tertinggi itu ada di Aceh ya. Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat. Di ketinggian mungkin memenuhi tapi dari sudut elongasi itu masih kurang," ujar Arsad dikutip dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).
Dalam standar MABIMS, kata Arsad, ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Meskipun dari sisi ketinggian hilal ada kemungkinan memenuhi syarat, tetapi dari aspek elongasi masih belum mencapai batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria MABIMS.
Meski demikian, kata dia, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 antara ketetapan Pemerintah dengan Muhammadiyah berpeluang kembali berbeda seperti penentuan awal Ramadhan.
Walaupun demikian, Arsad meminta masyarakat tetap memantau hasil keputusan sidang isbat yang bakal digelar pada 19 Maret 2026.
"Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS, emang apa ya, masih tidak mungkin untuk bisa dilihat, tapi keputusan akhir tetap nanti kita menunggu hasil sidang Isbat yang akan dilaksanakan di tanggal 19 Maret," ucapnya.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 berpotensi jatuh pada tanggal yang berbeda.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!