Ziarah ke Gus Dur, Menyusuri Jejak Sang Guru Bangsa di Tebuireng

ED
Senin, 22 Juni 2026 | 10:53 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS | JOMBANG - Perjalanan panjang Tim Gowes VISI.NEWS menyusuri jalur sejarah di Pulau Jawa membawa rombongan singgah ke salah satu destinasi ziarah paling ramai di Indonesia, yakni makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pesarehan Keluarga Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (21/6/2026).

Setelah menempuh perjalanan bersepeda lintas kota, rombongan langsung menuju kawasan Pesantren Tebuireng yang sejak lama dikenal sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus tempat peristirahatan terakhir para ulama besar Nahdlatul Ulama (NU).

Suasana religius langsung terasa begitu memasuki kawasan pesantren. Jalan menuju area makam dipadati para peziarah dari berbagai daerah. Ratusan orang, didominasi rombongan ibu-ibu, tampak berjalan kaki menuju kompleks pemakaman. Di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan, berjejer rapi para pedagang yang menawarkan aneka cendera mata, kitab, tasbih, peci, hingga kuliner khas Jombang.

Keramaian itu mengingatkan suasana pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi. Bedanya, para pengunjung datang bukan untuk berbelanja semata, melainkan untuk berziarah, berdoa, dan mengenang jasa para ulama besar yang dimakamkan di sana.

Tim Gowes VISI.NEWS menyaksikan bagaimana arus manusia terus mengalir menuju kompleks makam tanpa henti. Bus-bus pariwisata datang silih berganti mengantar rombongan dari berbagai daerah di Indonesia.

Kompleks pemakaman Tebuireng sendiri merupakan pesarehan keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama. Di tempat ini dimakamkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari atau yang akrab disebut Mbah Hasyim, pendiri NU dan salah satu ulama paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Tak jauh dari makam Mbah Hasyim, bersemayam pula KH Wahid Hasyim, tokoh nasional sekaligus Menteri Agama RI. Di kompleks yang sama juga dimakamkan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur beserta anggota keluarga besar lainnya.

Keberadaan makam Gus Dur menjadikan kawasan Tebuireng sebagai salah satu tujuan wisata religi terbesar di Indonesia. Tak heran jika setiap hari ribuan orang datang untuk berziarah.

Di area makam, suasana khusyuk terasa begitu kuat. Gema salawat Nabi Muhammad SAW dan bacaan tawasul terdengar dari berbagai sudut kompleks pemakaman. Setiap kelompok peziarah tampak dipimpin oleh kiai, ustadz, maupun tokoh agama yang membacakan doa-doa untuk para ulama yang telah wafat.

Ada yang duduk bersila di bawah rindangnya pepohonan, ada pula yang berdesakan mendekati area makam utama. Meski ramai, suasana tetap tertib dan penuh penghormatan.

Salah seorang peziarah asal Bandung, Jawa Barat, mengaku telah lama bercita-cita berziarah ke makam Gus Dur.

"Kami datang sekeluarga untuk mendoakan para ulama sekaligus mengenang perjuangan Gus Dur yang sangat berjasa menjaga persatuan bangsa. Rasanya tenang sekali berada di sini," ujarnya.

Hal senada disampaikan rombongan peziarah dari Cirebon yang datang menggunakan bus bersama jamaah pengajian.

"Setiap tahun kami berusaha datang ke Tebuireng. Selain ziarah, kami juga ingin mengenalkan sejarah perjuangan para ulama kepada generasi muda," kata seorang ustadz yang mendampingi rombongan.

Sementara itu, seorang ibu peziarah asal Lampung mengaku menempuh perjalanan panjang demi bisa berdoa di makam Gus Dur.

"Gus Dur itu tokoh yang dicintai banyak orang. Beliau milik seluruh bangsa Indonesia. Karena itu kami ingin berziarah dan mendoakan beliau," tuturnya.

Keramaian peziarah juga dibenarkan oleh Pian, salah seorang petugas di kompleks pemakaman Tebuireng.

Menurutnya, jumlah pengunjung pada akhir pekan jauh lebih besar dibandingkan hari biasa.

"Pada Sabtu dan Minggu pengunjungnya bukan lagi ratusan, tapi bisa sampai ribuan orang. Bahkan di terminal khusus bus para peziarah sering harus antre karena banyaknya rombongan yang datang," ungkap Pian kepada Tim Gowes VISI.NEWS.

Ia menjelaskan, makam Gus Dur dibuka untuk umum setiap hari. Pada siang hari, jam kunjungan dimulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Sementara malam hari, peziarah dapat berkunjung mulai pukul 20.00 hingga 02.00 dini hari.

Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, kunjungan ke Tebuireng bukan sekadar singgah dalam perjalanan panjang melintasi Jawa Timur. Ziarah ini menjadi kesempatan untuk mengenang warisan pemikiran para ulama besar yang telah memberikan kontribusi penting bagi bangsa Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk peziarah yang terus berdatangan, kompleks makam Tebuireng tetap memancarkan aura ketenangan. Tempat ini seakan menjadi titik temu antara sejarah, spiritualitas, dan kecintaan masyarakat kepada para ulama yang telah mewariskan ilmu, keteladanan, serta semangat kebangsaan bagi generasi penerus.

Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.