VISI | Ya Allah, Ramadhan Segera Berlalu
Oleh Aep S Abdullah
RAMADHAN segera pergi meninggalkan kita. Bulan yang penuh berkah ini akan berlalu, meninggalkan hati yang gundah dan jiwa yang merindu. Setiap tahun, kita selalu berharap Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya. Namun, sudahkah kita benar-benar memanfaatkan kesempatan yang diberikan-Nya?
Tahun lalu, kita berdoa dengan penuh harap, "Ya Allah, sampaikanlah kami pada Ramadhan tahun depan." Allah mengabulkan doa kita, memberi kita kesempatan kembali merasakan bulan suci ini. Tetapi, kini saat Ramadhan hampir usai, kita bertanya pada diri sendiri: apakah ibadah kita tahun ini lebih baik dari sebelumnya?
Seharusnya setiap Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan meningkatkan kualitas ibadah. Namun, kenyataan sering kali berbeda. Hari-hari Ramadhan berlalu dengan cepat, dan kita menyadari bahwa amalan kita masih jauh dari sempurna. Shalat malam masih jarang, tilawah masih tersendat, doa-doa masih tergesa, dan hati masih sibuk dengan urusan dunia.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19)
Betapa sering kita melupakan hakikat Ramadhan. Kita terlalu sibuk menyiapkan hidangan berbuka, memilih baju baru untuk Idulfitri, dan merencanakan liburan, sementara hati kita lalai dari keutamaan bulan ini. Waktu yang Allah berikan terbuang percuma, dan kini Ramadhan segera berlalu, meninggalkan kita dalam penyesalan.
Jika setiap tahun kita hanya berharap "Semoga dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya," tanpa ada perbaikan dalam ibadah, maka sampai kapan kita akan terus seperti ini? Padahal, usia kita tidak bertambah, melainkan berkurang. Kita tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Gunakanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Al-Hakim)
Setiap Ramadhan yang berlalu adalah pengingat bahwa waktu kita semakin singkat. Kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri semakin menipis. Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah tahun ini, apa jaminan kita akan mendapat kesempatan lagi tahun depan?
Banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini telah tiada. Mereka telah pergi dengan amal yang mereka miliki, tanpa bisa kembali untuk memperbaiki kekurangan mereka. Kita yang masih hidup diberikan kesempatan berharga ini, tetapi apakah kita benar-benar menghargainya?
Ramadhan adalah bulan ampunan. Namun, apakah kita sudah benar-benar memohon ampun dengan hati yang tulus? Apakah kita sudah menangisi dosa-dosa yang telah lalu? Ataukah kita hanya menjalani Ramadhan sebagai rutinitas tahunan, tanpa ada perubahan yang berarti dalam diri kita?
Saat ini, malam-malam terakhir Ramadhan tengah berlangsung. Malam-malam yang penuh dengan keberkahan, di mana doa-doa diijabah dan ampunan Allah terbuka lebar. Namun, sudahkah kita benar-benar memanfaatkannya? Ataukah kita masih terlena, sibuk memikirkan dunia yang fana?
Rasulullah ﷺ pernah menangis saat menaiki mimbar, dan ketika para sahabat bertanya, beliau bersabda:
"Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan, tetapi dosanya tidak diampuni." (HR. Ahmad)
Betapa ruginya kita jika Ramadhan berlalu tanpa ada perubahan dalam diri kita. Jika hati kita tetap keras, jika dosa-dosa kita tetap menumpuk, dan jika kita tetap lalai dalam beribadah, maka apa yang kita harapkan dari Ramadhan yang akan datang?
Waktu terus berjalan, dan Ramadhan semakin mendekati akhirnya. Semoga ini bukan Ramadhan terakhir kita. Namun, jika Allah menakdirkan ini sebagai Ramadhan terakhir kita, semoga kita tidak meninggalkannya dalam keadaan sia-sia.
Mari manfaatkan sisa Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Perbanyak istighfar, tingkatkan ibadah, dan jadikan Ramadhan ini sebagai momentum perubahan. Jangan sampai kita hanya berharap Ramadhan berikutnya, sementara kita tak tahu apakah masih diberi umur.
Ya Allah, terimalah amal ibadah kami di bulan ini, ampuni dosa-dosa kami, dan jadikanlah kami hamba yang lebih baik setelah Ramadhan berlalu. Aamiin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!