VISI | Wallahu'alam
Oleh Aep S. Abdullah
UNGKAPAN "Wallahu'alam" yang sering kita dengar dalam diskusi agama maupun intelektual, sebenarnya lebih dari sekadar kalimat penutup yang singkat. Kalimat ini mengandung pesan mendalam tentang kerendahan hati dan pengakuan akan keterbatasan ilmu manusia. Seorang doktor pemerhati politik dan pemerintahan yang sering mengirim artikel ke VISI.NEWS, selalu menutup tulisannya dengan kalimat ini. Menunjukkan sikapnya yang sangat bijak. Menyadari bahwa ilmu yang ia miliki hanya sebatas pengetahuan yang terbatas. Bahwa kebenaran mutlak hanya Allah yang mengetahui. Dalam tradisi keilmuan, baik itu dalam dunia politik, agama, atau ilmu lainnya, penting bagi kita untuk selalu menjaga ucapan, agar tidak melahirkan kesombongan atau sikap jumawa.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra’ (17:85), "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh itu urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". Ayat ini mengingatkan kita tentang keterbatasan pengetahuan manusia dan bahwa banyak hal yang hanya diketahui oleh Allah. Ungkapan "Wallahu'alam" adalah pengakuan atas keterbatasan tersebut. Di mana setiap pengetahuan yang kita peroleh hanyalah sebagian kecil dari pengetahuan yang tak terhingga yang dimiliki oleh Allah SWT. Dalam hal ini, ucapan ini seharusnya menjadi penanda bahwa kita tidak boleh merasa paling tahu atau paling benar, melainkan harus terus belajar dan mengakui ketidakberdayaan kita.
Seperti halnya yang dicontohkan oleh para kiai dan ulama terdahulu, ungkapan "Wallahu'alam" menjadi simbol dari kerendahan hati. Kiai-kiai di zaman dahulu, meskipun memiliki kedalaman ilmu agama yang luar biasa, mereka selalu mengingatkan diri mereka dan orang lain bahwa ilmu yang mereka miliki adalah pemberian dari Allah. Contoh yang dapat kita teladani dari Kiai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah maupun Kiai Haji Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Meskipun beliau adalah seorang tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia, beliau tidak pernah merasa memiliki kebenaran mutlak. Beliau selalu menjaga sikap rendah hati, menyampaikan ilmunya dengan penuh kehati-hatian, dan tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah pemegang kebenaran karena ilmu yang dimilikinya. Karenanya, kiai-kiai dari Muhammadyah maupun Nahdlatul Ulama jarang ada yang sombong. Sikapnya moderat dan toleran. Begitu pula santri-santri maupun para pengikutnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!