VISI | Satu Abad NU, Teladan Santri Mbah Hasyim
Dalam konteks inilah, keberanian untuk bersuara secara jujur dan bertanggung jawab menjadi bagian dari ikhtiar menjaga marwah organisasi. Ketegasan dalam menyampaikan kebenaran bukanlah bentuk perpecahan, melainkan wujud cinta dan tanggung jawab terhadap jam’iyah, terutama ketika amanah tidak lagi dijalankan sebagaimana mestinya.
KH. Hasyim Asy’ari telah mengajarkan bahwa kebenaran harus ditegakkan dengan adab, tetapi tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat. Prinsip inilah yang perlu terus dihidupkan agar NU tetap berada pada rel perjuangan yang benar.
Sebagaimana sebuah rangkaian kereta api, ketika lokomotif sebagai penggerak utama mengalami kerusakan atau kehilangan arah, maka gerbong-gerbong di belakangnya tidak akan mampu berjalan secara optimal. Analogi ini mengingatkan kita bahwa kualitas kepemimpinan di tubuh NU sangat menentukan kekuatan dan keberlangsungan jam’iyah secara keseluruhan.
Memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama membutuhkan pemimpin-pemimpin yang benar-benar menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari—amanah dalam jabatan, berintegritas dalam sikap, visioner dalam langkah, serta transparan dalam mengelola kepercayaan jam’iyah. Dengan demikian, NU akan tetap menjadi rumah besar yang menenteramkan, dipercaya, dan mampu memberi arah bagi umat dan bangsa.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!