VISI | Refleksi HUT ke-54 KORPRI: Mengabdi, Menjaga Integritas, Meneguhkan Literasi
Gambaran ini tentu memprihatinkan sekaligus menyadarkan kita bahwa tantangan literasi bukan hanya urusan sekolah, melainkan tanggung jawab birokrasi dan seluruh elemen bangsa. Dalam konteks birokrasi, persoalan ini tidak kalah serius. ASN dituntut menjadi garda depan pelayanan publik dan pembawa wajah negara.
Namun bagaimana mungkin lahir layanan publik yang akuntabel, inovatif, dan humanis bila tradisi membaca, meneliti, dan menulis belum melekat dalam keseharian? Literasi adalah mesin dari kebijakan yang tepat, basis dari pengambilan keputusan yang cermat, dan fondasi dari integritas profesional. Refleksi literasi ini semakin terasa personal ketika melihat perjalanan panjang pengabdian saya selama 39 tahun menjadi anggota KORPRI.
Sejak pertama kali diangkat menjadi ASN pada tahun 1986, karier saya dimulai dari tugas-tugas administratif. Hampir 26 tahun saya mengabdi sebagai tenaga kependidikan, mengemban berbagai amanah—dari Kepala Sub Bagian Rumah Tangga, Kepala Sub Tata Usaha, Bendahara Proyek PPTA, Pimpinan Proyek PPTA, Kepala Bagian Perencanaan dan Sistem Informasi, hingga Kepala Bagian Administrasi Kopertais Wilayah II Jawa Barat dan Banten.
Di tengah perjalanan panjang itu, saya terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor Manajemen Pendidikan. Transformasi institusi IAIN Bandung menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung membawa saya memasuki babak baru. Sejak 2013, saya beralih menjadi dosen, dan kini berkhidmat di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, khususnya pada Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana.
Perjalanan panjang ini mengajarkan satu hal: pengabdian bukan soal jabatan apa yang dipegang, tetapi nilai apa yang ditanam dan manfaat apa yang dirasakan masyarakat. Di era ketika dunia bergerak cepat, ASN dituntut tidak hanya bekerja, tetapi terus belajar; tidak hanya mengabdi, tetapi juga berinovasi; tidak hanya melayani, tetapi memberi keteladanan.
HUT ke-54 KORPRI harus menjadi pengingat bahwa birokrasi yang kuat tidak mungkin lahir dari aparatur yang berhenti belajar. Ketika literasi menjadi kebiasaan, maka integritas tumbuh, keputusan lebih tepat, dan pelayanan publik semakin manusiawi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!