VISI | Pilkada, Antara Pilihan Rasional dan Mistifikasi Politik

ED
Kamis, 3 Oktober 2024 | 05:58 WIB
Bagikan
VISI | Pilkada, Antara Pilihan Rasional dan Mistifikasi Politik

Agar dipahami pula bahwa Pilkada adalah masalah profan - keduniawian. Karena demikian halnya, maka hemat penulis, tak perlu juga menentukan pilihan lewat salat istikharah. Tanya saja hati nurani. Ia tidak pernah berdusta. Selanjutnya, simaklah pula kepribadian dan perilaku keseharian figur calon.

Sebagaimana diketahui, seorang calon mestinya punya keilmuan yang memadai. Indikasinya gampang. Salah satunya bisa diperhatikan dari atribut akademik yang lekat pada dirinya di depan namanya. Semakin tinggi gelar akademisnya, semakin punya kompetensi di bidangnya.

Selain kualifikasi keilmuan, perlu pula dipertimbangkan sejauh mana keberpihakan calon kepada rakyatnya, terutama kalangan akar rumput (dhuafa). Juga tentang kemampuan figur memelihara amanah, dan lain sebagainya.

Harus segera ditegaskan, bahwa apa yang baru saja diutarakan, bukan berarti melarang pelbagai laku spiritual (seperti istikharah, misalnya). Hal itu boleh-boleh saja. Sebab istikharah diajarkan agama. Akan tetapi untuk urusan yang satu ini (baca: Pilkada), sekali lagi mesti rakyat dididik cerdas dalam menggunakan akal, cerdik menentukan pilihan, sehingga kemudian tepat dalam menentukan siapa calon yang layak jadi pemimpin mereka.

Menurut penulis, salah satu upaya untuk mencerahkan dan mencerdaskan masyarakat adalah, dengan mengajak mereka membaca rekam jejak, prestasi dan pengalaman sang calon. Dengan demikian diharapkan mereka dapat menggunakan pikiran jernih dan akal sehatnya untuk memilih kepala daerah. Jangan sampai mereka keliru dalam memilih kepala daerah. Disebut keliru kalau dalam memberikan hak suaranya bukan kepada calon lantaran dia punya kualifikasi. Melainkan hanya lantaran keelokan paras, atau mungkin hanya popularitasnya di kalangan orang banyak. Jika hal itu terjadi maka akan menjadi preseden kurang sehat dalam membangun kehidupan demokrasi berkualitas jangka panjang.

Masa kampanye Pilkada yang dimulai tanggal 25 September s.d. 23 Nopember, rasanya lebih dari cukup untuk mengenali calon pimpinan daerah. Siapa dia yang akan akan kita pilih. Pasti kita sepakat bahwa calon yang dipilih adalah dia yang matang dalam pengalaman. Ini penting. Sebab dengan pengalaman  peluang meraih target pertumbuhan ekonomi 8 persen, sebagaimana telah dicanangkan Presiden terpilih Prabowo Subianto, sangat mungkin dapat terealisiasi. Sehingga target tersebut bukan sekedar utopia belaka.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.