VISI | Pelajaran dari Bencana Kanjuruhan
Yang patut diacungi jempol, PSSI telah memulai sejumlah reformasi untuk memperbaiki perilaku suporter.
Pendukung tim tamu dilarang menghadiri pertandingan selama turnamen domestik, Piala Presiden 2024. Sejak tragedi Kanjuruhan, FIFA telah memberikan mandat kepada Indonesia untuk menjalani “periode transformasi” selama dua tahun untuk meningkatkan keamanan sepak bola, jika tidak maka Indonesia akan menghadapi sanksi resmi dari badan olahraga tersebut.
Bersamaan dengan langkah sementara larangan suporter tamu, FIFA juga mendorong PSSI untuk menerapkan sistem registrasi untuk membantu mengidentifikasi dan meminta pertanggungjawaban dari para suporter yang mengganggu dan melakukan kekerasan di pertandingan.
Langkah ini meminjam dari Asosiasi Sepakbola Inggris (FA), yang menghadapi krisis serupa pada tahun 1989. Setelah periode hooliganisme sepak bola yang terkenal kejam, yang mencapai titik terendahnya dengan kematian 97 pendukung Liverpool dalam tragedi stadion Hillsborough tahun 1989, FA membuat perubahan mendasar pada sepak bola di Inggris.
Keamanan di stadion ditingkatkan, peraturan baru yang mengatur sepak bola dibuat dan FA mempertimbangkan kembali hubungannya dengan para suporter.
Terdapat transisi dari kehadiran polisi yang besar di stadion sepak bola dan beralih ke steward, staf yang terlatih khusus dalam menyeimbangkan tanggung jawab keamanan dengan membantu suporter.
Langkah-langkah lain yang dapat ditiru Indonesia dari Inggris termasuk mewajibkan semua stadion untuk menggunakan kursi tunggal, yang berarti tidak ada area berdiri, yang jauh lebih aman untuk meredam penggemar yang sulit diatur.
FA juga memastikan bahwa pagar pembatas yang tinggi antara tribun penonton dan lapangan telah dihilangkan, karena hal itu dianggap memicu perilaku buruk dari para penggemar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!