VISI | Pak Prabowo, Gampang Saja Kok!

ED
Minggu, 13 April 2025 | 12:54 WIB
Bagikan
VISI | Pak Prabowo, Gampang Saja Kok!

Oleh Aep S. Abdullah

OKE, mari kita mulai dengan satu pengakuan jujur: jadi presiden itu pasti capek. Apalagi kalau baru dilantik dan langsung disambut dengan situasi ekonomi yang seperti nasi goreng tanpa kecap—kering, hambar, dan bikin emosi. Tapi tetap saja, rakyat butuh bukti, bukan sekadar pose berkuda.

Saham anjlok, rupiah lemah, emas naik. Yang satu turun, yang satu limbung, yang satu melonjak. Seperti hubungan toxic, ekonomi kita sekarang nggak jelas maunya ke mana. Tapi yang lebih bikin heran, Presiden Prabowo masih tampak kalem, seperti baru bangun tidur dan belum nemu sandal.

Padahal, ini saatnya menunjukkan kalau beliau bukan hanya jago di medan perang, tapi juga jago di medan anggaran. Tapi apa yang kita lihat? Menteri-menteri yang seolah dipilih dari grup WA alumni, bukan dari CV dan kapasitas. Beberapa bahkan terlihat lebih cocok jadi komentator sinetron daripada pengelola kebijakan negara.

Koruptor masih tertawa-tawa, oligarki masih pegang remote ekonomi, dan rakyat cuma bisa nonton sambil ngunyah mi instan tanpa telur. Pak Presiden, kalau mau berpihak pada rakyat, gampang kok: pecat yang bebal, gebuk yang nakal, dan tegas pada yang rakus!

Kita paham, politik itu rumit. Tapi kalau urusan memberantas korupsi saja Prabowo masih mikir-mikir karena takut kehilangan dukungan, lalu kapan kita punya pemimpin yang benar-benar berpihak pada rakyat, bukan pada lingkaran kecil kekuasaan?

Data ekonomi sudah jelas: defisit anggaran triwulan pertama membengkak seperti tagihan listrik rumah kontrakan. Lapangan kerja terancam hilang, UMKM megap-megap, dan anak muda mulai lebih akrab dengan aplikasi pinjol daripada portal rekrutmen kerja.

Rakyat sabar, tapi sabar itu ada masa kadaluarsanya. Kalau Presiden masih terus dikelilingi oleh pembantu-pembantu yang lebih jago selfie daripada membuat kebijakan, ya jangan salahkan kalau rakyat mulai rindu masa kampanye, saat semua janji manis terasa mungkin.

Lucunya, di tengah krisis ini, yang paling cepat justru pasar: cepat panik. Saham cepat anjlok, investor cepat hengkang, rakyat cepat pasrah. Yang lambat cuma satu: respons pemerintah.

Apa susahnya melakukan reshuffle? Tunjuk menteri yang pintar, berani, dan punya empati. Bukan yang hanya pintar membuat pernyataan normatif dan sibuk mencari angle terbaik untuk masuk berita malam.

Kalau koruptor dibiarkan, oligarki terus diistimewakan, dan rakyat hanya jadi latar belakang di foto-foto proyek, ya jelas arah bangsa ini lebih mirip sinetron stripping—panjang, membosankan, dan nggak jelas ending-nya.

Pak Prabowo, ini bukan saatnya membangun citra, ini saatnya membangun kepercayaan. Dan kepercayaan itu dibangun dari tindakan tegas, bukan dari retorika indah yang bisa ditulis siapa saja.

Rakyat itu simpel, kok. Mereka hanya ingin hidup layak, pekerjaan tetap, harga stabil, dan pemimpin yang benar-benar peduli. Bukan yang lebih sibuk urus gaya komunikasi daripada isi kebijakannya.

Ini genting. Dan kalau genting saja masih dianggap angin lalu, lalu kapan negara ini mau dianggap serius?

Kami tahu bapak bisa galak. Nah, sekarang saatnya galak itu dipakai bukan untuk musuh imajiner, tapi untuk para pengkhianat kepercayaan rakyat yang justru ada di dalam lingkaran sendiri.

Terakhir, kami ingin mengingatkan: pemimpin yang hebat bukan yang ditakuti lawan, tapi yang dicintai rakyat karena keberaniannya berpihak tanpa basa-basi. Dan rakyat, jangan diam. Karena kadang, suara kecil dari bawah bisa jadi gempa besar di atas.***

  • Catatan: tulisan ini dibantu AI (artificial intelligence) 

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.