VISI | Menjaga Kewarasan
Kewarasan guru bukan hanya soal mengajar kurikulum formal, melainkan juga memberi teladan. Guru mengajarkan kejujuran di tengah budaya korupsi, menanamkan disiplin di tengah birokrasi yang penuh kelonggaran, menumbuhkan harapan di tengah narasi pesimisme.
Salah satu problem besar negeri ini adalah ketika pendidikan tidak lagi dipandang sebagai investasi jangka panjang, melainkan sebagai proyek politik jangka pendek. Program-program pendidikan sering menjadi alat pencitraan, bukan sarana peningkatan kualitas. Inilah yang membuat kurikulum kita tidak pernah ajeg, berganti seiring pergantian rezim.
Negara-negara maju justru berlomba-lomba membangun rakyat cerdas dengan konsistensi kebijakan pendidikan. Finlandia, misalnya, sejak tahun 1970-an menjalankan reformasi pendidikan yang konsisten, menempatkan guru sebagai profesi paling terhormat, dan tidak mudah mengubah kurikulum hanya demi kepentingan politik. Jepang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras sejak dini, dengan konsistensi kebijakan pendidikan lintas generasi.
Sementara di negeri ini, guru sering dipaksa menyesuaikan diri dengan “eksperimen” pendidikan yang tak berkesudahan. Bukankah ini bentuk pembodohan sistemik? Bukankah ini cara halus untuk melemahkan bangsa dari dalam?
Salah satu cara guru menjaga kewarasan adalah melalui literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kemampuan memahami informasi, memilah kebenaran, serta mengkritisi fenomena.
Di ruang kelas sederhana, guru bisa mengajarkan anak-anak untuk bertanya, mempertanyakan, dan mencari jawaban secara kritis. Di desa-desa terpencil, guru membuka perpustakaan kecil dari rak buku sumbangan, agar anak-anak tetap punya akses pada dunia luas. Dari kegiatan menulis jurnal sederhana, guru menanamkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki suara, dan suara itu layak dihargai.
Literasi inilah yang menjaga kewarasan bangsa. Di tengah arus informasi palsu, kabar bohong, dan manipulasi media sosial, literasi menjadi pagar agar generasi tidak mudah terseret arus kebodohan massal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!