VISI | Mana Lebih Aman, Kripto atau Bank ?
Oleh Aep S. Abdullah
DALAM waktu kurang dari setahun—sejak 22 November 2024 hingga Mei 2025—uang rakyat Indonesia yang raib akibat penipuan mencapai angka mencengangkan: Rp 2,6 triliun. Angka ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem keuangan konvensional dalam melindungi masyarakat dari kejahatan digital yang semakin canggih.
Laporan dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menyebutkan bahwa selama periode tersebut, terdapat 135.397 laporan penipuan dengan 219.168 rekening terindikasi, dan hanya sekitar 22,5% yang berhasil diblokir. Artinya, sistem keamanan yang dimiliki perbankan belum cukup tangguh untuk merespons kejahatan dengan cepat dan efektif.
Di tengah situasi ini, pertanyaan besar muncul: apakah sistem keuangan tradisional seperti bank masih lebih aman dibanding kripto? Atau justru kripto, dengan semua inovasinya, menawarkan sistem yang lebih kuat dan tahan terhadap kejahatan?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita harus paham bahwa bisnis keuangan adalah bisnis kepercayaan. Bank dan lembaga keuangan tradisional berdiri di atas fondasi trust system: pengirim uang mempercayai bank untuk mengelola, menyimpan, dan menyalurkan uangnya ke penerima. Namun, apa yang terjadi bila kepercayaan ini dikhianati oleh sistem yang tidak transparan dan mudah disusupi?
Di sisi lain, kripto hadir dengan konsep revolusioner: trustless system. Sistem ini tidak meminta kepercayaan terhadap pihak ketiga seperti bank, perusahaan, atau bahkan manusia. Verifikasi dan audit dilakukan secara otomatis oleh algoritma dan jaringan komputer terdesentralisasi. Tidak ada jam istirahat, tidak ada libur, dan tidak bisa dikorupsi.
Sejarah lahirnya kripto berakar dari ketidakpercayaan terhadap sistem keuangan global. Di tahun 2008, ketika krisis keuangan mengguncang dunia dan bank-bank besar harus diselamatkan lewat bailout pemerintah, Satoshi Nakamoto merilis white paper Bitcoin sebagai bentuk kritik dan alternatif terhadap sistem lama yang dinilai bobrok.
Kalimat pembuka white paper tersebut bahkan mengutip tajuk koran The Times Inggris: “Chancellor on brink of second bailout for banks”. Satoshi menyampaikan pesan bahwa sistem keuangan lama terlalu bergantung pada pihak-pihak yang seringkali tidak bertanggung jawab, dan sudah saatnya diganti dengan sistem yang berjalan otomatis dan transparan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!