VISI | Kritik Itu Diapakan?
Yang lebih lucu lagi, ada pejabat yang kalau dikritik, justru menyerang balik dengan kalimat sakti: "Kalau tidak suka, silakan pergi dari negara ini!" Eh, sabar, Pak. Yang kritik itu juga warga negara, lho. Pajaknya ikut membayar gaji pejabat. Masa kalau kasih masukan malah disuruh angkat kaki?
Yang lebih aneh lagi ada pejabat yang kompetensinya komunikasi, malah bisa menjawab sekenanya ketika diminta tanggapannya soal teror kepala babi terhadap media yang dikenal kritis, Tempo. Akhirnya jawabannya itu memicu kegaduhan baru.Maka dari itu, di lingkaran kekuasaan harus ada sosok yang bisa menjadi jembatan komunikasi antara penguasa dan rakyat. Orang yang bisa meredam amarah, mengolah kritik, dan menjawabnya dengan cerdas. Sebab, kalau semua kritik ditanggapi dengan marah-marah, jangan heran kalau lama-lama orang jadi malas berbicara dan hilang rasa hormat. Lebih buruk lagi, munculnya desakan untuk mendown grade, karena dianggap tidak cakap.
Seorang pemimpin yang cerdas justru akan menganggap kritik sebagai masukan berharga. Kritik itu ibarat sinyal WiFi—kalau lemah, kita susah mendapatkan informasi yang jelas. Dan kalau setiap kali sinyal itu muncul langsung dimatikan, yang rugi siapa?
Jangan sampai kritik malah dianggap seperti musuh yang harus dimusnahkan. Seorang pemimpin sejati harus bisa membedakan mana kritik yang membangun dan mana yang sekadar nyinyiran. Yang membangun, dijawab dengan argumentasi. Yang nyinyir? Ah, biarkan saja, nanti juga capek sendiri.
Tapi ini juga jadi tantangan buat para pengkritik. Jangan cuma bisa asal njeplak tanpa data dan solusi. Kritik yang baik itu harus berbasis fakta, bukan sekadar perasaan. Jangan sampai kritik kita malah jadi bahan lelucon yang mudah dimentahkan.
Pada akhirnya, kritik itu seperti obat. Rasanya bisa pahit, tapi kalau dikonsumsi dengan benar, hasilnya bisa bikin sehat. Tapi kalau setiap kali minum obat langsung marah-marah dan menuduh apoteker punya niat jahat, ya kapan sembuhnya?
Jadi, daripada membuang energi untuk marah-marah, lebih baik mulai belajar mendengar dengan kepala dingin. Toh, semakin sering seseorang mendapat kritik, itu tandanya masih banyak orang yang peduli. Yang patut dikhawatirkan justru kalau semua orang diam, lalu tiba-tiba di ujung masa jabatan ada kejutan yang tak terduga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!