VISI | Kerja atau Kuliah?

ED
Kamis, 5 Februari 2026 | 06:21 WIB
Bagikan
VISI | Kerja atau Kuliah?
Oleh Aep S. Abdullah KEYAKINAN bahwa kuliah di perguruan tinggi terbaik akan berujung pada pekerjaan layak perlahan kehilangan pijakannya. Gelar sarjana yang dahulu dipuja sebagai tangga sosial kini kerap berhenti sebagai simbol, tak selalu berfungsi sebagai kunci pembuka dunia kerja. Realitas ketenagakerjaan Indonesia hari ini menunjukkan jurang yang kian lebar antara pendidikan formal dan kebutuhan riil pasar kerja. Data Badan Pusat Statistik per Februari 2025 memperlihatkan gambaran yang sulit disangkal. Sekitar 7,3 juta orang menganggur, dan lebih dari satu juta di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. Angka ini menandai satu hal penting: pendidikan tinggi tidak lagi otomatis menjamin akses terhadap pekerjaan yang baik dan layak. Di Jawa Barat, provinsi dengan populasi dan angkatan kerja terbesar di Indonesia, situasi tersebut terasa lebih nyata. Tingkat pengangguran terbuka masih berada di atas rata-rata nasional, dengan sekitar 1,7 hingga 1,8 juta orang belum bekerja. Di antara mereka terdapat lulusan kampus yang telah menyandang gelar, namun belum menemukan tempat di dunia kerja. Fenomena ini bukan sekadar soal kurangnya lapangan pekerjaan. Ia mencerminkan perubahan struktur ekonomi dan karakter kerja. Dunia kerja bergerak cepat, menuntut keterampilan yang spesifik dan adaptif, sementara pendidikan tinggi—dalam banyak kasus—masih bergerak dengan logika lama: teori, gelar, lalu berharap pasar akan menyesuaikan diri. John Dewey, filsuf pendidikan Amerika, pernah menulis bahwa pendidikan bukan persiapan menuju kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri. Pandangan ini terasa relevan hari ini. Ketika pendidikan terlepas dari pengalaman nyata, ia berisiko melahirkan lulusan yang cakap di ruang kelas, tetapi gamang di dunia kerja. Di lapangan, perubahan cara pandang industri semakin kentara. Banyak praktisi bisnis dan sumber daya manusia mengakui bahwa pengalaman, portofolio, dan kemampuan menyelesaikan masalah sering kali lebih menentukan daripada reputasi kampus. Gelar akademik tetap dihargai, tetapi bukan lagi penentu tunggal. Akibatnya, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi—termasuk dari kampus ternama—yang akhirnya berada dalam antrean panjang pencari kerja. Mereka memiliki ijazah, tetapi minim pengalaman praktis. Mereka menguasai konsep, tetapi belum terbiasa dengan tekanan target, ritme kerja, dan tuntutan produktivitas. Dalam konteks ini banyak siswa PKL di VISI.NEWS gamang, melanjutkan kuliah atau kerja dulu. Pilihan sebagian lulusan SMA, MA, dan SMK untuk bekerja lebih dulu sebelum melanjutkan kuliah sering kali dipandang sebelah mata. Padahal, pilihan tersebut justru bisa dibaca sebagai strategi adaptif. Bekerja lebih awal memberi ruang untuk belajar langsung dari kenyataan, membangun keterampilan, serta memahami kebutuhan industri secara konkret. Tidak sedikit pula yang kemudian melanjutkan kuliah sambil bekerja, atau memilih pendidikan lanjutan yang benar-benar relevan dengan pekerjaannya. Dalam pola ini, kuliah bukan lagi tujuan, melainkan sarana untuk memperkuat kapasitas dan memperluas peluang. Di sisi lain, dunia pendidikan tinggi juga menghadapi dilema. Minat terhadap program studi yang dianggap “masa depan”—seperti kecerdasan buatan, bisnis digital, dan pemasaran digital—melonjak tajam. Hampir semua perguruan tinggi ingin membuka program studi serupa. Namun persoalan klasik muncul: keterbatasan tenaga pengajar yang benar-benar kompeten dan berpengalaman. Banyak perguruan tinggi, khususnya swasta, kesulitan mencari dosen yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki rekam jejak praktik industri. Akibatnya, bidang yang seharusnya diajarkan secara aplikatif justru disampaikan secara konseptual. Mahasiswa belajar tentang dunia kerja masa depan dari sudut pandang masa lalu. Padahal, regulasi pemerintah sebenarnya telah memberi ruang bagi keterlibatan praktisi industri dalam pendidikan tinggi. Skema dosen praktisi memungkinkan kampus menghadirkan pengalaman nyata ke ruang kelas. Namun kebijakan ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Jika kolaborasi ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, kampus dapat berperan sebagai jembatan antara dunia akademik dan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga pemahaman tentang realitas profesi yang akan mereka masuki. Perubahan ini menuntut keberanian institusi pendidikan untuk keluar dari zona nyaman. Perguruan tinggi perlu jujur mengakui bahwa tidak semua lulusan akan masuk ke jalur kerja formal. Sebagian akan berkiprah di sektor kreatif, ekonomi digital, pekerjaan berbasis proyek, atau wirausaha yang menuntut fleksibilitas tinggi. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan “kuliah atau bekerja” tidak lagi relevan jika dipertentangkan secara biner. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merancang jalur belajar dan bekerja secara sadar dan kontekstual. Kuliah tetap penting, tetapi tidak selalu harus didahulukan tanpa arah yang jelas. Kuliah tanpa strategi berisiko memperpanjang antrean pengangguran terdidik. Sebaliknya, bekerja tanpa peningkatan kapasitas berisiko menempatkan seseorang dalam stagnasi jangka panjang. Keduanya perlu dipertautkan, bukan dipertentangkan. Realitas hari ini menuntut pilihan yang lebih rasional dan reflektif. Bekerja lebih awal bisa menjadi jalan membangun daya saing. Melanjutkan kuliah tetap relevan jika dipilih dengan pertimbangan kebutuhan dan masa depan keahlian. Pada akhirnya, dunia kerja tidak lagi bertanya dari kampus mana seseorang berasal, melainkan apa yang bisa ia kerjakan dan kontribusi apa yang mampu ia berikan. Gelar akademik masih memiliki nilai, tetapi nilainya ditentukan oleh relevansinya dengan zaman. Pendidikan tinggi tidak sedang kehilangan makna. Ia sedang diuji. Dan ujian itu hanya bisa dijawab jika kampus, industri, dan individu sama-sama bersedia berubah. Wallahu'alam. ***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.