VISI | Jadi Jurnalis yang Generalis di Era AI

ED
Senin, 3 Juli 2023 | 17:45 WIB
Bagikan
VISI | Jadi Jurnalis yang Generalis di Era AI

Oleh Abdul Majid Ramdhani

KITA menciptakan teknologi dan teknologi pada gilirannya menciptakan kembali siapa diri kita.

Bagi para praktisi media dan tenaga pengajar (dosen) komunikasi sendiri, yang paling penting adalah mencermati karakteristik masing-masing medium informasi dan komunikasi massa, serta menyiasati karakteristik tersebut untuk mengoptimalkan fungsi peran jurnalis di tengah masyarakat digital pada dewasa kini.

Sabtu, 1 Juli Tahun 2023, Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kab. Bandung menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik di Gedung SD YANI, (samping gedung PCNU Kab. Bandung), Jalan Laswi No. 516 Ciparay Kab. Bandung, Jawa Barat.

LTN NU Kabupaten Bandung, Jawa Barat, merespons teknologi dengan penguatan literasi, dalam hal ini: Pelatihan Jurnalistik yang dapat mengusik ruang pemikiran generasi muda milenial, bahwa ada cara untuk mengkritik salah satunya mendalami ilmu jurnalistik.

Siaran berita-berita televisi atau pendistribusian berita di media online memang bisa saja sungguh-sungguh dan serius. Tapi bisa juga membodohi masyarakat, berpura-pura, dan terbuka untuk dimanipulasi informasinya istilahnya berita dusta, palsu (fakenews). Maka, di sinilah letak urgensi moralitas-kehadiran moralitas mutlak yang diperlukan dalam produksi dan sajian konten berita di televisi, portal media online, sehingga khalayak mendapatkan aspek terbaik dari budaya baru yang dikenal teknologi AI (Artificial Intelligence) yang sedang berkembang dengan sangat pesat.

Penulis agak sedikit mencatat hal-hal terkait materi pelatihan jurnalistik, menurut Kang Aep, selaku Pimpinan Redaksi VISI.NEWS.

"Jurnalis adalah profesi yang mulia dan mengasyikkan. Karenanya pasca reformasi banyak orang yang tiba-tiba jadi "jurnalis", tanpa dibekali keterampilan menulis, tanpa memahami tupoksi (tugas pokok dan fungsi) jurnalis itu sendiri" ungkap Aep S. Abdullah, saat menjadi narasumber Pelatihan Jurnalistik LTN NU Kab. Bandung, Sabtu lalu.

Bagaimana tidak tertarik untuk menjadi "jurnalis", sekarang, kemudahan itu sebagian masih bisa, sebagian lagi sudah lebih ketat karena banjirnya "jurnalis". Kalian boleh saja melakukan apapun sepanjang tugas jurnalistik, tapi tidak boleh kaya!.

Boleh jadi, yang dimaksudkan ialah menggadaikan profesi, sehingga mempengaruhi kualitas hasil kinerja sebagai seorang jurnalis. Jurnalis adalah orang yang bisa luas silaturahminya, selama dia bekerja dengan baik dan disiplin pada aturan yang ada. Begitu penulis mencoba menyesuaikan poin-poin materi beliau, Kang Aep S. Abdullah.

Kegiatan pelatihan jurnalistik ini bertujuan mengajak generasi milenial untuk berani memulai dan mencoba menjadi jurnalis. Penulis merasakan betapa kehadiran teknologi tak pelak memberikan pengaruh sangat besar dalam kehidupan saat ini.

Dengan menjadi wartawan, pewarta, atau jurnalis tentu harus sadar diri, bila merujuk McLuhan bersama Quentin Fiore ; media pada setiap zamannya menjadi esensi masyarakat (Marshall McLuhan & Quentin Fiore, The Medium is the Massage, New York: Bantam Books, 1967).

Mereka mengatakan adanya empat era atau zaman (epoch) dalam sejarah media. Media berfungsi sebagai kepanjangan indra manusia pada masing-masing era; Era Kesukuan (Tribal), Era Tulisan (Literate), Era Cetak (Print), dan Era Elektronik.

Dari keempat era inilah, jurnalis atau wartawan ditenagai dalam proses pencarian menggali ide yang akan dituangkan dalam tulisan, (artikel berita, opini ataupun narasi cerita yang nanti juga akan di-audio visual-kan dengan kecanggihan teknologi AI (Artificial Intelligence). Adanya akulturasi perkembangan teknologi ini di Era Digital-Era AI akan memberikan ruang seluas-luasnya bagi pertarungan opini, pemulihan wawasan yang dikemas secara visual. Fenomena belakangan ini yang berkaitan dengan 'dunia komunikasi' secara komprehensif dan rasional, dengan memanfaatkan beragam sudut pandang dan latar belakang secara adil untuk menilai sebuah fenomena. Rasanya akan sangat menyenangkan, kalau saya mampu memberikan energi positif untuk rekan-rekan muda milenial dan akhirnya mereka juga bisa mengikuti jejak yang saya ambil, jadi jurnalis yang generalis. Jurnalis yang santri. Santri yang jurnalis. Kalau istilah asbun (asal bunyi) saya, Salik "Santri Jurnalistik". ***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.