VISI | Isomorphic Mimicry
Oleh Drajat
- Doktor Ilmu Pendidikan,
- Wasekjen Komnasdik,
- Hipnoterapis,
- Mindshaper Idonesia,
- Guru SMP N 1 Cangkuang, Kab. Bandung.
BERKARAKTER adalah kata kunci bagi siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan sejati. Dalam dunia pendidikan, kata ini bahkan menjadi “kitab wajib” yang seharusnya menjiwai setiap gerak dan keputusan. Namun, belakangan makna karakter semakin kabur. Banyak yang sukses secara tampilan, tapi hancur dalam nilai. Banyak yang pandai membuat pencitraan, namun kosong dalam keteladanan.
Fenomena ini tak hanya terjadi di kalangan individu, tapi juga pada lembaga dan para pemimpin — terutama pemimpin pendidikan dan pemerintahan daerah. Merekalah seharusnya menjadi panutan dalam membangun karakter bangsa, namun tak jarang justru terjebak dalam ilusi pencitraan yang memukau di luar, tapi rapuh di dalam. Dalam bahasa ilmu sosial, fenomena ini dikenal sebagai Isomorphic Mimicry — istilah yang diperkenalkan oleh Lant Pritchett dan Michael Woolcock dari Harvard University. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan perilaku lembaga atau individu yang “meniru bentuk” institusi atau praktik baik dari luar, tanpa benar-benar memahami atau menginternalisasi substansinya.
Bentuknya bisa sangat beragam. Bangunan sekolah megah berdiri di setiap sudut kota, tapi di dalamnya para guru kehilangan semangat dan peserta didik hanya mengejar nilai, bukan makna. Gedung dinas pendidikan tampil modern, tapi ruang rapatnya dipenuhi laporan formalitas. Para pejabat sibuk dengan jargon dan spanduk, tapi miskin sentuhan kemanusiaan.
Tak jarang, kepala daerah berlomba-lomba menghias wilayahnya dengan taman tematik, mural inspiratif, atau monumen pendidikan, seolah itu menjadi simbol kemajuan. Namun, di balik itu semua, masih ada sekolah yang kesulitan air bersih, laboratorium yang hanya menjadi gudang, dan siswa yang putus sekolah karena tak mampu membeli seragam.
Inilah bentuk nyata isomorphic mimicry: tampak berfungsi dari luar, tetapi kehilangan jiwa di dalam. Sistem yang seharusnya hidup untuk melayani manusia berubah menjadi panggung pencitraan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!