VISI | Generasi Ulul Albab: Citra yang Menjadi Standar Baru?

ED
Senin, 17 November 2025 | 04:22 WIB
Bagikan
VISI | Generasi Ulul Albab: Citra yang Menjadi Standar Baru?

Oleh A. Rusdiana

  • Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Dewan Pembina PERMAPEDIS Jawa Barat
  • Dewan Pakar Perkumpulan Wagi Galuh Puseur.
  • Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al-Mishbah Cipadung Bandung
  • Yayasan Pengembangan Swadaya Mayarakat Tresna Bhakti Cinyasag Panawangan 

WISUDA ke-105 UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 15 November 2025 bukan sekadar agenda akademik. Ia merupakan penanda bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di lingkungan Kementerian Agama RI telah bergerak melampaui fungsi tradisionalnya. PTKI kini tidak hanya hadir sebagai institusi penghasil gelar, tetapi sebagai produsen kualitas peradaban melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berdaya tahan moral. Dengan melepas lebih dari 1.000 lulusan sarjana dan pascasarjana, wisuda ini mempertegas mandat penting: memastikan lahirnya Generasi Ulul Albab sebagai standar baru lulusan PTKI nasional. Tema wisuda tahun ini, “Mencetak Generasi Ulul Albab”, bersenyawa kuat dengan tema Hari Pahlawan 10 November, “Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan.” Dua narasi ini sesungguhnya mengarah pada satu pesan fundamental: bangsa tidak cukup diselamatkan oleh kepintaran akademik, tetapi oleh kebijaksanaan, keberanian moral, dan karakter yang kokoh.

Al-Qur'an menempatkan ulul albab sebagai figur dengan kejernihan nalar, kedalaman spiritual, dan kemampuan membaca tanda-tanda zaman. Namun dalam konteks strategi pendidikan modern, ulul albab bukan lagi konsep normatif atau simbolik. Ia harus diterjemahkan menjadi standar kualitas, bukan slogan. Setidaknya ada tiga elemen yang membedakan generasi ulul albab dari sekadar lulusan berijazah.

Pertama, akal kritis yang berakhlak: Kekacauan informasi, polarisasi digital, serta banjir opini tanpa dasar ilmiah menuntut kehadiran ilmuwan bukan hanya sarjana—yang memiliki keberanian intelektual sekaligus kedewasaan etik. Lulusan PTKI tidak boleh menjadi repetitor dogma, tetapi harus tampil sebagai pengolah gagasan yang sistematis. Ketajaman berpikir wajib berjalan seiring dengan integritas moral.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.