VISI | CEO Spiritual
MUI juga sudah mengeluarkan fatwa: Korupsi itu haram. Kenapa? Karena merugikan umat, menghancurkan kepercayaan, dan membuat donatur kehilangan iman. Jamaah jadi bingung: “Ini ustaz ngajarin sabar… atau ngajarin sabar nunggu dana cair?”
Korupsi bukan cuma soal milyaran di DPR. Korupsi itu juga ketika dana hibah dipakai buat beli sepeda listrik. Ketika uang kencleng malah nyasar ke rekening istri muda. Ketika ustaz bilang “amanah,” tapi rekeningnya lebih aktif dari rekening TikTok Shop.
Jangan pikir “ah, ini cuma lima juta, cuma sedikit.” Lah, dosa itu enggak ditimbang di ATM. Di akhirat, bukan besarnya duit yang dihitung, tapi beratnya pengkhianatan.
Lucunya, ada juga yang bilang: “Saya enggak korupsi, cuma mengambil hak saya yang disembunyikan negara.” Kalau begitu, maling motor juga bisa bilang: “Ini bukan mencuri, ini cuma redistribusi kendaraan pribadi.”
Terakhir, mari kita renungkan hadits Rasulullah SAW: "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." Jadi, jangan main-main jadi pemimpin umat, kalau akhirnya malah mimpin jamaah ke LP kelas VIP.
Visi CEO Spiritual seharusnya bukan “Kaya dari dakwah,” Tapi “Berkah karena dakwah.” Ilmu itu cahaya, bukan celengan. Amanah itu beban, bukan sumber penghasilan tambahan.
Semoga kita semua, baik ustaz, jamaah, pejabat, maupun rakyat biasa, bisa menjaga diri dari godaan korupsi, dan memilih jalan keberkahan. Karena sesungguhnya, amplop hasil korupsi itu ringan di tangan, tapi berat di hisab.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!