VISI | Bulan Introspeksi

ED
Jumat, 28 Februari 2025 | 09:30 WIB
Bagikan
VISI | Bulan Introspeksi

Oleh Aep S Abdullah

INDONESIA, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, masih menghadapi tantangan besar dalam mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Meskipun Islam menjadi agama mayoritas, pelaksanaan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan masih belum maksimal. Korupsi masih meraja lela, kebohongan publik dianggap biasa, dan perilaku buruk lainnya yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam.

Seorang guru besar politik dan bisnis internasional di Universitas George Washington, Hossein Askari, pernah melakukan sebuah penelitian unik untuk mencari tahu negara mana yang paling Islami dalam penerapan nilai-nilai Islam. Penelitian ini mencakup 208 negara dan hasilnya cukup mengejutkan.

Dari penelitian tersebut, negara-negara yang paling mencerminkan nilai-nilai Islam justru bukan negara Muslim. Lima negara teratas adalah Irlandia, Denmark, Luksemburg, Selandia Baru, dan Swedia. Negara-negara seperti Singapura, Finlandia, Norwegia, dan Belgia juga termasuk dalam daftar negara yang menerapkan nilai-nilai Islam secara nyata.

Sebaliknya, negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim justru menempati peringkat yang lebih rendah. Arab Saudi nomor ke-91 dan Indonesia sendiri di urutan ke-104, Mesir tambah hancur lagi yaitu di nomor ke-128, Irak dan Suriah (ISIS) masing-masing di urutan ke-148 dan 168. Malaysia berada di posisi ke-33, Kuwait di peringkat ke-48, Qatar di peringkat ke-111.

Malah negara-negara seperti Amerika berada di posisi ke-15 bersama Belanda, dan Israel berada di urutan ke-17.

Hal ini menunjukkan bahwa label "negara Islam" tidak selalu sejalan dengan implementasi nilai-nilai Islam dalam kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan pedoman yang jelas bagi umat Islam agar mereka menjalani kehidupan dengan berpegang teguh pada ajaran-Nya. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini adalah Surah Al-Baqarah (2:2): "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa."

Selain itu, dalam Surah Al-An’am (6:155), Allah juga berfirman: "Dan ini (Al-Qur'an) adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat." Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam harus mengikuti pedoman Al-Qur'an dalam menjalani kehidupan agar mendapatkan keberkahan dan rahmat Allah.

Rasulullah SAW juga telah memberikan peringatan kepada umatnya untuk selalu berpegang teguh pada ajaran Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah bersabda: "Aku tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul-Nya."

Sayangnya, menurut Askari, banyak negara Islam justru menggunakan agama sebagai instrumen politik dan kekuasaan, bukan sebagai pedoman dalam membangun keadilan dan kesejahteraan. Hal ini menyebabkan banyak negara Muslim terjebak dalam korupsi, ketidakadilan, dan ketertinggalan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sebaliknya, negara-negara Barat lebih mencerminkan nilai-nilai Islam dalam hal pemerintahan yang bersih, transparansi, keadilan sosial, serta perlindungan hak-hak rakyatnya. Askari menegaskan bahwa negara yang opresif, korup, memiliki kesenjangan sosial yang besar, dan tidak mengedepankan kebebasan serta keadilan, tidak bisa disebut sebagai negara Islami.

Penelitian yang dilakukan Askari dan Scheherazade S. Rehman ini dipublikasikan dalam Global Economy Journal dan menjadi sorotan banyak pihak. Kesimpulannya, Islam bukan hanya tentang simbol dan identitas, tetapi lebih kepada bagaimana nilai-nilainya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Irlandia, misalnya, populasi Muslim memang masih kecil, sekitar 49.000 jiwa, tetapi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan sangat terasa. Dr. Ali Selim dari Islamic Cultural Centre of Ireland menyebut bahwa umat Muslim di sana dapat hidup berdampingan dengan masyarakat setempat karena kesamaan pengalaman sejarah dalam menghadapi diskriminasi dan ketidakadilan.

Selain itu, Selim juga menyoroti bagaimana para imigran Muslim di Irlandia diberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan ekonomi. Dublin bahkan menjadi salah satu pusat investasi Islam terbesar di Eropa, menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang berbasis keadilan dan kesejahteraan dapat diterapkan dengan baik.

Menjelang bulan Ramadhan, ini adalah momen yang tepat bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk melakukan introspeksi. Apakah kita sudah menjalankan ajaran Islam dengan benar? Apakah nilai-nilai Islam sudah tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari?

Bulan suci ini seharusnya bukan hanya tentang puasa dan ibadah ritual, tetapi juga refleksi tentang bagaimana kita menjalankan Islam secara holistik, baik dalam hubungan dengan Allah (hablum minallah) maupun dengan sesama manusia (hablum minannas). Dengan demikian, kita bisa membumikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, membawa manfaat dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.