VISI | BMT Pesantren: Keuangan Syariah untuk Kemandirian Santri dan Umat

ED
Senin, 1 Desember 2025 | 05:43 WIB
Bagikan
VISI | BMT Pesantren: Keuangan Syariah untuk Kemandirian Santri dan Umat

Oleh Nuslih Jamiat

  • Dosen Telkom University
  • Center of Excellence for SHE(Halal), Telkom University

Lokomotif Ekonomi Syariah

Di TENGAH hiruk pikuk lembaga keuangan konvensional, pesantren-pesantren di Indonesia justru menunjukkan jalan lain yang lebih membumi dan penuh berkah. Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang dikembangkan di lingkungan pesantren bukan sekadar lembaga keuangan mikro biasa, melainkan gerakan ekonomi syariah yang mengakar kuat pada nilai-nilai Islam dan kepercayaan masyarakat.

Kisah yang Menginspirasi

Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Jawa Timur, menjadi contoh cemerlang bagaimana BMT pesantren dapat tumbuh menjadi raksasa ekonomi syariah. Dimulai dengan modal awal hanya Rp13,5 juta pada tahun 1997, kini BMT MMU Sidogiri dan BMT UGT Sidogiri telah memiliki aset mencapai ratusan miliar rupiah. BMT UGT Sidogiri bahkan dinobatkan sebagai Koperasi Jasa Keuangan Syariah Terbesar se-Indonesia pada tahun 2012, dengan 228 unit pelayanan tersebar di berbagai provinsi dari Jawa, Kalimantan, hingga Bali Kemenag. Pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan buah dari penerapan prinsip-prinsip bisnis Rasulullah SAW yang konsisten.

KH Mahmud Ali Zain, mantan Ketua Kopontren Sidogiri yang kini menjabat sebagai Ketua Rabithah Maahid Islamiyah, menjelaskan kunci sukses mereka: menerapkan manajemen Rasulullah yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (transparan), dan fathonah (profesional) JPNN. Keempat sifat mulia ini bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dijalankan dalam setiap transaksi dan keputusan bisnis. (Tribunnews)

Keberkahan Ponpes Sidogiri yang telah berdiri sejak 1745 sangat menentukan kesuksesan BMT-BMT tersebut, karena kepercayaan masyarakat terhadap pesantren yang berusia lebih dari 267 tahun ini sudah sangat kuat Kemenag. Nama besar pesantren menjadi modal sosial yang tak ternilai harganya.

Yang membedakan BMT pesantren dengan lembaga keuangan lainnya adalah orientasinya yang tidak semata mencari keuntungan. KH Mahmud menegaskan bahwa bisnis pesantren dimaksudkan sebagai sumber pendanaan bagi pesantren dan bagaimana menebar rahmat, bukan hanya mencari untung belaka TribunNews. BMT Sidogiri telah menyerap sedikitnya 1.300 tenaga kerja, tidak hanya dari kalangan santri tetapi juga masyarakat luas TribunNews. Dampak ekonominya sangat nyata: menciptakan lapangan kerja, memberdayakan UMKM, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.