VISI | Berjamaah di Mesjid
Oleh Aep S. Abdullah
INI cerita Marcell Darwin. Seorang mualaf. Saat pertama salat berjamaah, ia misah sendiri. Tidak mengikuti shaf (deretan jemaah). Suami dari Nabila Faisal ini tidak tahu kalau salat berjamaah harus ikut shaf. Sehingga seperti yang ia ceritakan di podcast kasisolusi, kehadirannya itu mengundang tawa. "Istri saya menyuruh saya salat berjamaah di mesjid, tapi tidak memberi tahu harus ngikutin shaf, " ungkapnya.
Salat berjamaah di mesjid, memang lebih utama daripada salat sendiri di rumah. Berbicara tentang keutamaan, dalil-dalil tentang salat berjamaah di masjid bertebaran dalam khazanah Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah perbandingan yang fantastis, bukan?
Bayangkan, pahala kita dilipatgandakan hanya dengan melangkahkan kaki menuju masjid dan berdiri bahu membahu bersama saudara seiman. Secara kuantitatif, kehadiran kita di masjid untuk berjamaah bukan sekadar menambah bilangan shaf. Lebih dari itu, ia adalah manifestasi persatuan umat.
Data menunjukkan bahwa interaksi sosial yang terjalin di masjid memperkuat tali persaudaraan dan solidaritas antar jemaah. Kita saling mengenal, berbagi cerita, dan membantu satu sama lain dalam kebaikan. Bukankah indah rasanya menjadi bagian dari komunitas yang saling peduli?
Selain aspek spiritual dan sosial, bahwa berjamaah di masjid juga menyehatkan? Udara pagi yang segar saat salat Subuh, misalnya, sangat baik untuk paru-paru kita. Gerakan salat yang teratur juga melenturkan otot dan persendian. Bahkan, berjalan kaki menuju masjid adalah bentuk olahraga ringan yang menyehatkan jantung.
Lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid yang ideal adalah rumah kedua bagi jemaahnya. Ketika seseorang tidak terlihat dalam beberapa waktu, pertanyaan "Kemana dia?" seringkali terlontar. Ini menunjukkan adanya perhatian dan rasa kekeluargaan yang kuat. Suasana hangat dan kebersamaan ini sulit ditemukan di tempat lain. Jemaah masjid yang baik, layaknya sebuah keluarga besar yang saling menyayangi dan mendukung.
Sayangnya, fenomena masjid yang sepi jamaah dengan mayoritas muslim, menjadi ironi tersendiri. Tak sedikit mesjid yang sudah tak terdengar lagi suara adzan. Tak pernah lagi ada salat berjamaah. Yang agak mendingan, mesjid yang jemaahnya terus menyusut. Salat Subuh hanya empat orang tua. Maghrib kurang satu shaf. Salat wajib lainnya hanya dua tiga orang jemaah itu-itu saja.
Survei kecil-kecilan menunjukkan bahwa salah satu penyebabnya adalah kurangnya peran imam dan pengurus masjid sebagai pemimpin yang mengayomi seluruh umat. Masjid seharusnya menjadi rumah bagi semua golongan, tanpa memandang perbedaan paham atau aliran.
Masjid yang hanya mengakomodasi satu kelompok tertentu, terutama di lingkungan yang mayoritas berbeda pahamnya atau lingkungan yang heterogen, lambat laun akan ditinggalkan. Jemaah mencari tempat yang lebih inklusif, di mana mereka merasa diterima dan dihargai. Pemimpin masjid yang hanya ingin dihormati tanpa menghormati jemaahnya, yang hanya ingin didengar tanpa mau mendengar aspirasi mereka, akan kehilangan kepercayaan umat.
Selain itu, masjid juga harus steril dari kepentingan politik praktis. Ketika mimbar masjid digunakan sebagai ajang menyerang tokoh politik atau menyebarkan ideologi tertentu, esensi masjid sebagai rumah ibadah yang netral akan tercoreng. Jemaah yang memiliki pandangan politik berbeda akan merasa tidak nyaman dan menjauh.
Kunci kemakmuran sebuah masjid terletak pada ketulusan pengurusnya dalam melayani semua umat. Ketika masjid dikelola dengan ikhlas karena Allah semata, rahmat-Nya akan turun. Masjid akan ramai dengan jemaah, kegiatan pendidikan seperti majelis taklim dan TPA akan berjalan aktif, dan bahkan potensi ekonomi umat melalui koperasi atau BMT masjid bisa berkembang pesat.
Di beberapa daerah, masjid bahkan ada yang bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi jemaahnya. Mesjid menjadi solusi korban PHK. Ide-ide kreatif seperti menjadi agen penjualan daring produk sesama jemaah atau menjadi reseller produk halal tumbuh subur di lingkungan masjid. Ini membuktikan bahwa masjid yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Masjid juga bisa menjadi pusat informasi dan edukasi. Kajian parenting, pelatihan digital, bahkan seminar kesehatan bisa dilaksanakan rutin. Ini yang akan membuat jemaah merasa masjid dekat dengan kehidupan mereka, bukan hanya urusan akhirat, tapi juga urusan dunia.
Maka, sangat penting bagi pengurus masjid hari ini untuk memiliki wawasan luas, keterampilan sosial, dan kerendahan hati. Masjid bukan milik kelompok tertentu, tapi milik seluruh umat. Semakin inklusif, semakin kuat ikatannya.
Kita perlu mendorong anak-anak muda untuk aktif di masjid, bukan malah membuat mereka enggan datang karena merasa “nggak nyambung” dengan gaya pengurusnya. Masjid yang hidup adalah masjid yang tumbuh bersama zaman, bukan yang menolak perubahan.
Berjamaah di mesjid lebih dari sekadar menggugurkan kewajiban. Ia adalah investasi pahala yang berlipat ganda. Wadah silaturahmi yang mempererat ukhuwah, dan bahkan sumber kesehatan fisik dan mental.
Setiap langkah kaki kita menuju masjid juga penghapus dosa dan pengangkat derajat. Kehadiran kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk memperkuat barisan umat dan menghidupkan rumah Allah.
Oleh karena itu, jadikanlah masjid bukan hanya sebagai tempat singgah untuk beribadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan umat yang inklusif. Bisa melayani dengan tulus, dan membawa keberkahan bagi seluruh jemaahnya. Dengan begitu, masjid akan kembali menjadi jantung komunitas yang hidup, makmur, dan dirindukan kehadirannya oleh setiap muslim.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!