VISI | Berbohonglah Sebelum Dilarang!
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika generasi muda mulai kehilangan ruang untuk berpikir bebas. Anak-anak muda yang: kritis, cerdas, berani berbicara, justru dicurigai. Mereka dianggap mengganggu stabilitas. Mereka dijungkirbalikkan. Mereka diintimidasi. Padahal sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa perubahan selalu lahir dari keberanian anak muda. Namun tampaknya, sebagian pemimpin lebih nyaman dengan generasi yang diam daripada generasi yang berpikir.
Pendidikan yang Dipaksa Bodoh
Dan di sinilah tragedi terbesar itu terjadi: pendidikan perlahan dipaksa kehilangan daya kritisnya. Guru dijanjikan kesejahteraan. Gaji layak di atas UMR didengungkan. Namun realitas di lapangan masih jauh dari harapan.
Sementara itu, program demi program terus bermunculan. Sebagian besar terlihat megah di permukaan, tetapi miskin arah. Yang lebih ironis lagi, ada sekolah-sekolah yang justru kehilangan fungsinya. Bangunan pendidikan berubah menjadi koperasi atau fungsi lain yang jauh dari ruh pendidikan itu sendiri. Seolah-olah yang penting adalah: perut kenyang bukan, kepala yang tercerahkann. Padahal bangsa besar tidak dibangun hanya dengan makanan. Bangsa besar dibangun dengan: ilmu karakter ndan keberanian berpikir
Tahun 2045 terus digaungkan sebagai momentum Indonesia Emas. Namun pertanyaannya: emas untuk siapa? Jika pendidikan terus diabaikan. Jika guru terus dipinggirkan. Jika kejujuran terus ditekan. Jika kecerdasan dianggap ancamah, maka jangan salahkan jika yang lahir bukan generasi emas. Melainkan generasi cemas. Generasi yang: takut berbicara, takut berbeda, takut jujur, dan akhirnya kehilangan keberanian untuk berpikir merdeka
Yang paling menyedihkan dari semua ini adalah kesan bahwa negara semakin sibuk dengan dunianya sendiri. Rakyat berbicara tentang kebutuhan hidup. Guru berbicara tentang pendidikan. Anak muda berbicara tentang masa depan. Namun kekuasaan sering kali sibuk dengan: pencitraan, kepentingan politik, dan strategi mempertahankan posisi. Akibatnya, hubungan antara rakyat dan pemimpin semakin jauh. Negara kehilangan kepekaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!