VISI | Bencana dan Pendidikan: Menagih Kesadaran

ED
Selasa, 2 Desember 2025 | 15:29 WIB
Bagikan
VISI | Bencana dan Pendidikan: Menagih Kesadaran

Tema HGN 2025: Menguji Ketulusan Kita

Ironisnya, bencana Sumatra terjadi hampir bersamaan dengan Hari Guru Nasional 2025 yang mengusung tema “Merawat Semesta dengan Cinta.” Sebuah tema indah yang seharusnya bukan sekadar tagline, melainkan orientasi pedagogis. Dalam pandangan Islam, manusia ditugaskan sebagai khalifah di bumi (QS Al-Baqarah: 30). Artinya, merawat alam adalah bagian dari tanggung jawab spiritual. Guru, sebagai pendidik, mestinya menjadi aktor utama yang menanamkan amanah ekologis ini kepada generasi muda.

Namun realitasnya, pendidikan kita masih terjebak pada tuntutan administratif, angka rapor, dan orientasi ujian. Guru terlalu sering dibebani laporan, bukan diarahkan menghidupkan kesadaran ekologis. Padahal guru adalah pembentuk cara pandang: bagaimana anak melihat tanah, air, pohon, dan ruang hidup semua itu dimulai dari ruang kelas.

Bencana Harus Masuk Ruang Belajar

Pendidikan kita terlalu steril dari kenyataan sosial dan ekologis yang sedang berlangsung. Murid belajar tentang iklim global, tetapi tidak memahami mengapa banjir berulang di kotanya sendiri. Mereka mempelajari struktur tanah, tetapi tidak diajak melihat dampak alih fungsi lahan. Mereka menghafal ayat tentang larangan merusak bumi, tetapi tidak pernah diberi ruang untuk mengamalkannya dalam konteks lingkungan hidup.

Saatnya menjadikan bencana sebagai bahan belajar lintas mata pelajaran: (1) IPA membedah fenomena hidrologi dan daya dukung lahan. (2) IPS mengulas relasi manusia, ruang, dan kebijakan. (3) Pendidikan Agama menanamkan etika khalifah dalam konteks lingkungan nyata. (5) Seni dan Bahasa mengajak murid mengekspresikan empati ekologis. Belajar tidak cukup dari buku; ia perlu sensasi tanah basah, suara sungai, dan kisah korban bencana.

Merawat Semesta: Bukan Program, tetapi Kesadaran

Jika tema besar tahun ini adalah “Merawat Semesta dengan Cinta,” maka pendidikan harus bergerak lebih konkret: (1) Sekolah hijau yang konsisten, bukan seremonial. (2) Pembelajaran berbasis proyek lingkungan. (3) Literasi bencana yang kontekstual, bukan formalitas modul. (4) Guru yang diberi ruang untuk mengaitkan isu lingkungan ke semua mata pelajaran.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.