VISI | Banyak Pemilu, Banyak Konsekuensinya
Bangladesh, Pakistan, dan Indonesia, yang merupakan salah satu negara dengan populasi terbesar di kawasan Indo-Pasifik, telah menyelenggarakan pemilu tahun ini. Masing-masing negara memiliki hubungan yang sulit dengan pemerintahan demokratis.
India, yang dikenal sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, akan memulai pemilu multi-tahap selama enam minggu yang melibatkan 968 juta pemilih terdaftar, di tengah iklim nasionalisme Hindu, perpecahan sektarian, dan kebebasan pers yang lumpuh.
Mekanisme pemilu menghasilkan pelaksanaan logistik yang tiada duanya – ekspresi kekuatan rakyat yang penuh kemenangan dan penuh perayaan yang memerlukan pengawasan dan kontrol seketat mungkin.
Persepsi mengenai integritas pemilu terkait langsung dengan kepercayaan terhadap lembaga pemerintah. Institusi-institusi yang mewujudkan pemerintahan demokratis – parlemen, pengadilan, eksekutif, dan sebagainya – mempunyai legitimasi yang bergantung pada kepercayaan masyarakat terhadap janji-janji mereka.
Kepercayaan adalah perekat yang menyatukan semuanya.
Misinformasi, yang sebagian besar disebarkan melalui media sosial, telah melemahkan kepercayaan terhadap proses dan hasil pemilu di banyak negara demokrasi. Meningkatnya otoritarianisme nasionalis dan ‘perang budaya’ yang hiper-partisan telah mengobarkan api misinformasi seputar perilaku dan hasil pemilu.
Media juga berperan dalam menciptakan skenario ini, karena media-media berita yang partisan melayani bias konfirmasi dari audiensnya dan menghindari pandangan-pandangan yang bertentangan, dengan emosi yang mengalahkan bukti-bukti yang ada.
Terkikisnya kepercayaan terhadap pemilu mempunyai konsekuensi yang serius – menyusutnya partisipasi masyarakat, melemahkan kontrak sosial dan mempercepat ketidakstabilan politik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!