Umrah Ramadan, Ibadah Khusyuk di Tengah Sesaknya Tanah Suci
Tarawih 11 rakaat umumnya berlangsung lebih singkat dan menjadi pilihan jamaah lanjut usia atau mereka yang ingin menjaga stamina. Sementara tarawih 23 rakaat menawarkan bacaan Al-Qur’an yang lebih panjang, sering kali diikuti jamaah yang ingin merasakan ibadah malam secara lebih lengkap. “Keduanya sama-sama khusyuk, tinggal pilih sesuai kemampuan,” kata Ahmad.
Malam hari, Masjidil Haram semakin sesak oleh jamaah yang mengikuti tarawih, qiyamul lail, hingga tadarus Al-Qur’an. Meski harus berdiri lama dan berdesakan, banyak jamaah mengaku tidak merasa lelah. “Capek badan, tapi hati rasanya penuh,” ujar Rahman.
Pengalaman umrah Ramadan juga berlanjut di Madinah. Masjid Nabawi dipenuhi jamaah, terutama mereka yang ingin beribadah di Raudhah. Area yang dikenal sebagai taman surga ini hampir selalu sesak, dengan antrean panjang dan pengaturan ketat. “Raudhah penuh sekali, tapi saat bisa masuk dan berdoa di sana, rasanya luar biasa,” ujar Siti.
Kepadatan di Raudhah menjadi ujian kesabaran tersendiri. Jamaah hanya diberi waktu singkat untuk berdoa, namun momen itu dimanfaatkan sebaik mungkin. Banyak yang tak kuasa menahan air mata saat bersujud di tempat yang diyakini mustajab tersebut.
Di tengah sesaknya jamaah dan aktivitas ibadah, Ramadan di Tanah Suci juga menghadirkan suasana kebersamaan yang kuat. Jamaah saling berbagi tempat, membantu lansia, hingga saling menyapa meski berbeda bahasa. Suasana ini menumbuhkan rasa persaudaraan yang hangat di antara sesama Muslim.
Bagi banyak jamaah, umrah di bulan Ramadan bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan pengalaman spiritual yang membekas seumur hidup. Di tengah padatnya Masjidil Haram, sesaknya Raudhah, berlimpahnya makanan gratis, serta pilihan tarawih 11 dan 23 rakaat, Ramadan di Tanah Suci menghadirkan keasyikan dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!