Trump Rencanakan Penutupan USAID, Apa Dampaknya?
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 4 Februari 2025 | 22:25 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Pemerintahan Donald Trump berencana menutup Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan mengintegrasikannya ke dalam Departemen Luar Negeri. Langkah ini memicu kekhawatiran atas masa depan bantuan AS senilai puluhan miliar dolar yang selama ini disalurkan ke negara-negara berkembang.
USAID merupakan lembaga pembangunan internasional terbesar milik AS dengan 10.000 tenaga kerja di seluruh dunia dan anggaran tahunan lebih dari $40 miliar. Selama tahun fiskal 2023, lembaga ini menyalurkan bantuan ke sekitar 130 negara, termasuk Ukraina, Ethiopia, dan Yordania.
“Skala pendanaan USAID untuk Ukraina sangat signifikan, negara Eropa yang dilanda perang tersebut menerima lebih dari 16 miliar dollar AS (Rp 261,19 triliun) dalam dukungan makroekonomi,” menurut data Pemerintah AS.
Dana yang dikelola USAID digunakan untuk berbagai sektor, mulai dari tata kelola pemerintahan, bantuan kemanusiaan, kesehatan, hingga pertanian.
Pada tahun 2023, USAID mengalokasikan sekitar $17 miliar (Rp 277,5 triliun) untuk mendukung proyek-proyek tata kelola pemerintahan, dengan porsi terbesar diberikan kepada Ukraina. Selain itu, sekitar $10,5 miliar (Rp 171,4 triliun) digunakan untuk penanganan isu-isu kemanusiaan, sementara sektor kesehatan menerima $7 miliar (Rp 114,4 triliun). Dana sebesar $1,3 miliar (Rp 21,24 triliun) dialokasikan untuk sektor pertanian.
USAID juga memberikan bantuan langsung berupa transfer tunai kepada beberapa negara, termasuk sebesar $770 juta (Rp 12,57 triliun) untuk Pemerintah Yordania, salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah. Beberapa program besar lainnya mencakup alokasi $811 juta (Rp 13,24 triliun) untuk Global Fund dalam memerangi AIDS, tuberkulosis, dan malaria, serta bantuan pangan dan gizi darurat senilai lebih dari $330 juta (Rp 5,38 triliun) bagi Afghanistan.
Namun, Gedung Putih mengkritik adanya pemborosan dan penyalahgunaan dana di USAID. Salah satu sorotan adalah anggaran sebesar $1,5 juta (Rp 24,4 miliar) yang dialokasikan untuk promosi kesetaraan dan inklusi dalam bisnis serta komunitas kerja di Serbia. Informasi mengenai program tersebut telah dihapus dari laman resmi USAID pada Senin malam.
Meski rencana ini digadang-gadang sebagai upaya efisiensi, para pengamat mengkhawatirkan dampaknya pada program-program bantuan global, terutama bagi negara-negara dengan kondisi ekonomi yang rentan. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!