Trump Naikkan Tarif Otomotif, Produsen Mobil China Diprediksi Untung
Editor
Desi Rossilawati
Selasa, 8 April 2025 | 23:00 WIB
VISI.NEWS | AMERIKA SERIKAT - Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menetapkan tarif impor sebesar 25 persen untuk kendaraan dan suku cadang otomotif, dengan tujuan melindungi industri dalam negeri dan memperkuat rantai pasok nasional.
Pada 2024, nilai impor kendaraan dan komponennya dari negara-negara seperti Meksiko, Jepang, Jerman, Korea Selatan, dan Kanada mencapai sekitar US$475 miliar atau hampir Rp 8.000 triliun.
Namun, para analis menyebut kebijakan ini justru berpotensi menguntungkan produsen mobil asal China dalam jangka panjang. Wakil Presiden AutoForest Solutions, Sam Fiorani, mengatakan bahwa meski biaya ekspansi ke AS meningkat bagi semua produsen, China tidak terlalu terdampak karena mereka tidak bergantung pada pasar AS untuk pendapatan utama mereka.
Fiorani juga menilai, beban tarif justru akan menggerus daya saing merek otomotif dari Eropa, Jepang, dan Korea Selatan, membuka ruang lebih luas bagi produsen China, khususnya dalam segmen mobil listrik. Saat ini, enam dari 10 produsen mobil listrik terbesar dunia berasal dari China.
Mulai 2027, AS juga berencana melarang perangkat keras dan lunak buatan China yang terintegrasi dalam kendaraan, dengan alasan keamanan nasional. Ini akan berdampak pada kendaraan yang memiliki sistem konektivitas seperti Bluetooth, Wi-Fi, atau satelit.
Menurut Tu Le, pendiri Sino Auto Insights, fokus pemerintahan Trump pada repatriasi industri justru bisa membuat AS tertinggal secara teknologi dan daya saing global. Alih-alih memperkuat energi bersih dan infrastruktur pendukung, AS justru disibukkan dengan kebijakan tarif dan pemindahan pabrik.
Sementara produsen kendaraan China bisa menyambut peluang ini, produsen suku cadang dari China menghadapi tantangan lebih besar. Karena selama ini, mereka sangat bergantung pada pasar AS untuk penjualan komponen otomotif.
Ekonom dari Economist Intelligence Unit, Nick Marro, menjelaskan bahwa produsen suku cadang asal China akan lebih terdampak, karena hubungan bisnis mereka masih saling terkait dengan industri otomotif AS. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!