Tingkatkan SDM, Ketua TP PKK Kabupaten Bandung Emma Dety Laksanakan Bina Wilayah
Emma Dety juga turut memberikan edukasi terkait tata cara pembuatan pupuk kompos yang berasal dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Mulai dari menggunakan sisa dedaunan, bubuk gergaji, dedak, kardus yang dicampur tanah, kemudian disiram air beras dan sedikit air yang dicampur gula putih.
"Dalam kurun waktu satu bulan bisa jadi pupuk kompos untuk tanaman. Pupuk kandang (kambing atau domba) bisa digunakan pupuk organik yang dinilai lebih bagus untuk kesuburan tanah dan tanaman. Jadi di lingkungan sekitar banyak potensi yang bisa dijadikan pupuk organik. Jadi tidak ada alasan kekurangan pupuk," jelasnya.
Ia berharap para kader PKK untuk menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. "Harus menjadi contoh dulu bagi diri sendiri, baru ke orang lain," harapnya.
Disampingi itu, Emma Dety turut mengungkapkan pentingnya keluarga tangguh bencana, selain desa harus tanggap dalam menghadapi potensi bencana. Seperti ancaman banjir, longsor dan bencana lainnya.
"Stunting juga bisa dianggap bencana. Covid-19, juga bisa disebut bencana. DBD (demam berdarah dengue) juga bisa disebut bencana. Antisipasi DBD, yaitu dengan cara gotong royong membersihkan selokan, selain melaksanakan foogging untuk antisipasi ancaman penyakit DBD supaya tidak menyebar," katanya.
Dikatakannya, untuk penanganan stunting bisa menggunakan anggaran Dana Desa. Untuk menangani stunting, ia menyebutkan bayi yang diberikan makanan bergizi dengan kondisi bayi usia 6 bulan sampai 24 bulan yang berada di bawah garis merah."Makanan bergizi itu bisa berupa telor, ikan, daging, sayuran dan lain-lian," katanya.
Emma Dety berharap ibu hamil juga diberikan makanan bergizi supaya tidak melahirkan bayi stunting.
@kos
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!