Tim PPPUD Pacu Gairah Perajin Topeng Batik yang Terpuruk Akibat Pandemi
Sujiman mengungkapkan, Dusun Bopung sejak tahun 1973 merupakan sentra kerajinan topeng kayu dan di dusun itu juga terdapat kesenian tari topeng yang merupakan tradisi khususnya di Desa Putat.
Potensi kerajinan topeng yang semula banyak digunakan untuk seni tari tersebut, dikembangkan Sujiman dan para perajin lain dengan motif batik dengan teknik batik seperti batik pada kain.
"Sejak puluhan tahun warga Dusun Bopung sudah menjadi perajin topeng. Setelah dikembangkan menjadi topeng batik jumlah perajin semakin banyak, setidaknya dalam satu keluarga ada 2 orang perajin. Saat di Dusun Bopung tercatat sekitar 800an perajin yang hidup dari pembuatan topeng batik," jelasnya.
Semasa pandemi selama 2 tahun, menurut Sujiman, jumlah perajin yang masih aktif menurun menjadi sekitar 20 persen saja. Dia berharap, setelah mendapat pendampingan tim PPPUD UNS, pasar produk kerajinan topeng batik dapat bergairah kembali dan pangsanya juga semakin luas.
"Saat ini pasaran kerajinan topeng batik masih di dalam negeri. Ada yang diekspor, tetapi melalui pihak kedua. Nilai penjualan dalam negeri sebelum pandemi per bulan rata-rata Rp 800 juta dan yang ekspor sekitar Rp 100 juta," ungkapnya.
Dia menambahkan, topeng kayu karya para perajin Dusun Bopung, Gunung Kidul, yang memang merupakan sentra kerajinan topeng tersebut, dalam kesenian tradisional tari topeng juga dipakai para seniman penari topeng Kuningan dan Cirebon, penari topeng Bali, Semarangan, terutama Solo dan Yogyakarta.@tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!