Teror Pocong di Jatim Dipicu Hoaks dan Konten Viral

Desi Rossilawati
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:57 WIB
Bagikan
Teror Pocong di Jatim Dipicu Hoaks dan Konten Viral

Fenomena teror pocong./visi.news/ist.

VISI.NEWS | SIDOARJO - Fenomena teror pocong jadi jadian yang belakangan ramai di sejumlah wilayah Jawa Timur memperlihatkan bagaimana kabar bohong, konten media sosial, dan narasi menyesatkan dapat dengan cepat memicu keresahan publik. Dalam beberapa hari terakhir, isu mengenai pocong berkeliaran hingga begal pocong menyebar di Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang Raya.

Meski sebagian besar kabar tersebut akhirnya dipastikan tidak benar, kepanikan warga sempat muncul akibat derasnya penyebaran video dan pesan berantai di media sosial maupun grup percakapan.

Kegaduhan pertama muncul dari wilayah Lamongan. Warga Lingkungan Tumenggungan, Kecamatan Lamongan mendadak ramai membahas video berdurasi singkat yang memperlihatkan sosok berbalut kain putih berdiri di area gang pemukiman minim penerangan pada malam hari.

Video itu cepat menyebar dan memicu ketakutan warga sekitar. Ketua RT setempat, Huda membenarkan bahwa lingkungan tempat tinggalnya ramai membicarakan video viral tersebut.

Namun setelah aparat dan perangkat kelurahan turun tangan, fakta di balik video itu justru mengejutkan. Sosok pocong yang membuat warga geger ternyata hanyalah aksi dua remaja berinisial MA (17) dan AB (17) yang sengaja membuat konten prank untuk media sosial.

Lurah Tumenggungan, Junaidi, kemudian memanggil kedua remaja tersebut untuk dimintai keterangan sekaligus meredam keresahan warga.

"Saya tanya kepada mereka tujuannya apa, terus mereka jawab hanya bercanda untuk ngeprank," tambah Junaidi dalam keterangannya dikutip, Selasa (26/5/2026).

Dalam pengakuannya, MA mengatakan dirinya hanya mengikuti ide rekannya. Sementara AB berperan sebagai penggagas sekaligus perekam video yang kemudian viral di media sosial. Setelah aksinya menuai kecaman, AB akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat.

"Saya minta maaf dan tidak akan membuat video di media sosial tentang pocong yang membuat resah masyarakat luas, khususnya masyarakat Lamongan," ujar AB.

Fenomena ini kemudian menjalar ke wilayah lain melalui narasi yang semakin liar. Di Kabupaten Nganjuk, warga dibuat resah setelah beredar poster digital yang menyebut adanya pocong jadi jadian membawa celurit dan mengetuk pintu rumah warga pada malam hari di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek.

Narasi tersebut memicu kekhawatiran warga karena dikaitkan dengan ancaman kriminalitas. Namun polisi memastikan informasi tersebut tidak dapat dibuktikan.

Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadi menegaskan bahwa informasi mengenai pocong bercelurit bukan berasal dari akun resmi dan hingga kini tidak ada laporan nyata dari masyarakat terkait kejadian tersebut.

Fajar meminta warga tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap kabar misterius yang belum terverifikasi.

"Masyarakat juga kami imbau tidak ikut ikutan menyebarluaskan kabar yang belum jelas kebenarannya," pungkas Fajar.

Isu serupa juga muncul di Sidoarjo. Warga Desa Ngampelsari, Kecamatan Candi sempat menerima video berantai di grup WhatsApp yang menyebut adanya pocong jadi jadian mendatangi rumah warga.

Namun setelah ditelusuri, video tersebut ternyata berasal dari Tangerang, Jawa Barat dan tidak memiliki kaitan dengan wilayah Sidoarjo. Meski demikian, penyebaran video itu sempat menimbulkan pembicaraan di tengah masyarakat.

Salah satu warga, Budi Santoso (32), mengatakan sebagian besar warga tidak terlalu menanggapi serius kabar tersebut karena dianggap hanya isu bohong.

"Saya dengarnya dari video yang ramai di WhatsApp, katanya ada pocong jadi jadian ditangkap di Tangerang. Kalau di Ngampelsari sendiri belum ada informasi atau kejadian itu," kata Santoso.

"Warga di sini banyak yang kurang merespons karena dianggap bohong belaka. Sampai sekarang juga tidak ada kejadian apa apa," tambahnya.

Kapolsek Candi Kompol Septiawan Adi Prihartono juga memastikan belum ada laporan resmi dari warga terkait isu tersebut. Meski demikian, patroli keamanan di lingkungan pemukiman tetap ditingkatkan untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Narasi yang paling mengkhawatirkan muncul di wilayah Malang Raya. Di media sosial beredar kabar mengenai kemunculan begal pocong yang disebut melakukan aksi kriminalitas jalanan pada malam hari.

Isu tersebut membuat aparat kepolisian turun tangan memberikan klarifikasi agar masyarakat tidak terpancing kepanikan maupun tindakan main hakim sendiri.

Kasi Humas Polres Malang AKP Bambang Subinajar mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya.

Sementara itu, Kasi Humas Polresta Malang Kota Ipda Lukman Sobhikin menegaskan bahwa wilayah Kota Malang aman dan tidak ditemukan kejadian seperti yang beredar di media sosial.

"Perlu kami tegaskan, di wilayah hukum Polresta Malang Kota tidak ada kejadian begal pocong sampai saat ini juga tidak ada laporan resmi dari masyarakat terkait hal tersebut," kata Lukman.

"Fakta ini penting kami sampaikan agar masyarakat tidak salah persepsi dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas kebenarannya," imbuhnya.

Fenomena teror pocong di sejumlah wilayah Jawa Timur memperlihatkan bagaimana konten viral dan pesan berantai dapat berkembang menjadi keresahan sosial ketika tidak disertai verifikasi informasi. Dalam konteks yang lebih luas, kasus ini juga menunjukkan tantangan aparat dan pemerintah daerah menghadapi cepatnya penyebaran hoaks di era media sosial.

Narasi yang awalnya berasal dari konten prank akhirnya berkembang menjadi isu kriminalitas hingga memicu ketakutan masyarakat lintas daerah. Kondisi tersebut membuat literasi digital dan kehati hatian dalam menyebarkan informasi menjadi semakin penting agar kepanikan publik tidak terus berulang.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.