Terlupakan di Tengah Banjir Baleendah, Situ Sipatahunan Menunggu Diselamatkan!

ED
Sabtu, 11 April 2026 | 06:32 WIB
Bagikan
Terlupakan di Tengah Banjir Baleendah, Situ Sipatahunan Menunggu Diselamatkan!

Situ Sipatahunan di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. /visi.news/google maps/tangkapan layar

VISI.NEWS | BANDUNG - Di tengah kepadatan dan persoalan klasik banjir yang kerap melanda wilayah Baleendah, tersimpan sebuah aset alam yang sesungguhnya memiliki potensi besar, namun belum tergarap optimal. Situ Sipatahunan, sebuah danau buatan yang dibangun pemerintah sejak tahun 1971 dan selesai pada 1975, kini seolah menjadi “permata yang tertutup debu”.

Sejak awal pembangunannya, Situ Sipatahunan dirancang sebagai infrastruktur vital untuk mendukung sektor pertanian, khususnya sebagai sumber pengairan bagi sawah-sawah di kawasan Baleendah. Danau ini mendapat suplai air dari dua sungai utama, yaitu Sungai Cigajah dan Sungai Cipancur. Dengan posisi geografis di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut, situ ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan distribusi air di wilayah tersebut.

Tidak hanya itu, keberadaan Situ Sipatahunan juga pernah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Kawasan ini dimanfaatkan sebagai laboratorium alam bagi sekolah-sekolah pertanian hingga perguruan tinggi seperti Universitas Bale Bandung. Di sinilah para mahasiswa dan pelajar belajar langsung mengenai sistem irigasi, ekosistem perairan, hingga praktik pertanian berbasis lingkungan.

Namun ironis, seiring perkembangan zaman, nama Situ Sipatahunan justru semakin tenggelam. Berbeda dengan destinasi wisata air lain di Kabupaten Bandung seperti Situ Patenggang dan Situ Cileunca yang terus berkembang dan dikenal luas, Situ Sipatahunan justru tertinggal tanpa arah pengembangan yang jelas.

Salah satu persoalan utama terletak pada aksesibilitas. Hingga kini, tidak terdapat penunjuk arah yang memadai menuju lokasi. Bagi warga luar daerah, menemukan lokasi Situ Sipatahunan bukan perkara mudah. Bahkan di era digital sekalipun, keberadaan penunjuk fisik tetap penting sebagai penunjang mobilitas dan kenyamanan pengunjung.

Perjalanan menuju lokasi juga tidak sepenuhnya ramah. Jalan menuju situ terbilang sempit dan tidak merata, sebagian berupa aspal sederhana, sebagian lainnya berupa bebatuan kasar. Kondisi ini diperparah dengan aktivitas truk pengangkut material tambang yang melintasi jalur tersebut. Kombinasi ini membuat akses menjadi tidak nyaman, bahkan berisiko bagi pengendara, khususnya sepeda motor dan pejalan kaki.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.