Terkait Revitalisasi Sungai Citarum, Pemprov Jabar Buat MoU dengan Monash University
Berbicara pada upacara penandatanganan, Pro Vice-Chancellor & President of Monash University Indonesia, Professor Andrew MacIntyre, mengatakan bahwa dia sangat senang melihat terealisasinya kemitraan antar institusi untuk memberikan layanan air dan penanganan limbah yang lebih baik, yang pada akhirnya dapat merevitalisasi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.
“Kemitraan ini membawa kami selangkah lebih dekat dalam mewujudkan visi kami untuk menciptakan sungai yang bersih, sehat, dan produktif dengan menggunakan pendekatan baru yang memanfaatkan limbah, sehingga mendorong masyarakat menuju keberlanjutan. Kami benar-benar ingin membantu masyarakat beralih dari membuang limbah ke lingkungan, ke solusi sirkular, termasuk mendaur ulang dandan menggunakan kembali,” kata Profesor Andrew.
Sementara itu, Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen kuat untuk mengatasi persoalan polusi sungai Citarum, “Saya berharap kolaborasi antara pemerintah dengan para peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran dan Monash University ini dapat menjadi awal bagi kami agar dapat mewariskan Citarum ke generasi berikutnya sebagai sungai yang bersih dan manusiawi.”
Selaku Director of the Informal Cities Lab, bagian dari Monash Faculty of Art, Design and Architecture, Professor Diego Ramirez-Lovering juga memimpin proyek transformasi sungai Citarum. Ia menjelaskan, “Memorandum saling pengertian ini adalah sebuah pencapaian yang sangat penting bagi Monash dan mitra pendiri kami, Universitas Indonesia. Proyek ini menunjukkan dukungan luar biasa dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan daerah untuk Proyek Transformasi Citarum.”
“Selama lima tahun terakhir tim kami telah mengembangkan roadmap dan masterplan revitalisasi sungai berdasarkan kepakaran interdisipliner. Kami sekarang siap untuk merancang bersama dan menguji proyek percontohan terintegrasi yang baru untuk mencapai zero-waste dan rehabilitasi sungai. Dalam perjalanannya kami akan bekerja sama dengan berbagai kelompok dalam masyarakat yang berorientasi pada kearifan lokal, pengetahuan, kepekaan budaya, serta kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI)".@nia
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!