Terhenti di Loket, Pasien Cuci Darah Terancam Gagal Terapi Akibat BPJS Nonaktif
Kisah serupa dialami Ajat (37), pedagang es keliling asal Lebak, Banten, yang menjalani perawatan di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung. Ia mengaku dipanggil keluar ruang perawatan saat proses cuci darah sedang berlangsung karena status BPJS-nya dinyatakan tidak aktif.
“Saya sedang cuci darah, jarum sudah ditusuk, tiba-tiba dipanggil karena BPJS tidak aktif. Istri saya harus menempuh perjalanan satu jam ke Kelurahan, Kecamatan, hingga Dinsos, tapi ditolak dan disuruh pindah ke jalur mandiri,” kata Ajat.
Bagi Ajat, pilihan menjadi peserta mandiri bukan solusi. Penghasilannya sebagai pedagang es keliling tak menentu, terlebih saat musim hujan membuatnya jarang berjualan.
“Untuk ongkos ke rumah sakit saja sudah susah, apalagi harus bayar iuran setiap bulan. Saya jualan es, sekarang malah sedang tidak dagang karena musim hujan. Kami hanya ingin sehat, jangan disusahkan seperti ini,” ujarnya.
Kasus ini menambah daftar panjang persoalan sinkronisasi data bantuan sosial dan jaminan kesehatan. Di lapangan, dampaknya terasa nyata: pasien yang seharusnya berjuang melawan penyakit justru dipaksa berhadapan dengan birokrasi, di saat waktu mereka ditentukan oleh jam terapi, bukan jam pelayanan administrasi. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!