Tel-U dan UIN Kudus Hadirkan EDUKASIH
VISI.NEWS | BANDUNG — Komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pendidikan inklusif kembali diwujudkan melalui kolaborasi antara Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Telkom dan Program Studi Pendidikan Bimbingan Konseling UIN Sunan Kudus. Kedua institusi tersebut menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pengembangan Media Pembelajaran untuk Anak Down Syndrome Jenjang SMP–SMA” di SLB Negeri Cinta Asih Soreang, Kabupaten Bandung.
Program ini menghadirkan sebuah media pembelajaran berbasis website bernama EDUKASIH, yang dirancang khusus untuk mendukung proses belajar peserta didik dengan Down Syndrome melalui pendekatan visual yang adaptif, sederhana, dan mudah dipahami.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan peserta didik Down Syndrome terhadap media belajar yang mampu menyesuaikan karakteristik mereka. Pada jenjang SMP hingga SMA, proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguatan kemampuan akademik dasar, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian, kemampuan memahami instruksi, serta keterampilan hidup sehari-hari.
Karena itu, diperlukan media pembelajaran yang mampu menyajikan materi secara lebih visual, terstruktur, dan dapat diakses secara berulang sesuai ritme belajar masing-masing siswa.
Dalam proyek kolaboratif ini, tim Universitas Telkom berperan dalam pengembangan desain komunikasi visual, tampilan antarmuka, serta pengalaman pengguna (user experience). Sementara itu, tim UIN Sunan Kudus memberikan kontribusi dari sisi pendidikan, pendampingan, dan kajian karakteristik kebutuhan belajar anak Down Syndrome.
Sinergi kedua disiplin ilmu tersebut melahirkan EDUKASIH, sebuah platform pembelajaran digital yang dirancang untuk mempermudah proses belajar mengajar di lingkungan sekolah luar biasa.
Website EDUKASIH dilengkapi berbagai fitur yang mendukung kebutuhan guru dan siswa. Platform ini memungkinkan guru mengelola materi pembelajaran, menyusun latihan soal, serta memantau perkembangan belajar peserta didik secara lebih terstruktur.
Di sisi lain, siswa dapat mengakses materi dengan tampilan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Penggunaan warna yang menarik, ikon yang mudah dikenali, huruf yang jelas, serta navigasi yang sederhana menjadi perhatian utama dalam pengembangannya.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu siswa memahami materi dengan lebih baik sekaligus meningkatkan kenyamanan mereka saat menggunakan media pembelajaran digital.
Sebagai bagian dari implementasi program, tim pengabdian masyarakat juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para guru di SLB Negeri Cinta Asih Soreang. Pelatihan mencakup cara mengakses sistem, mengunggah dan mengelola materi, membuat latihan soal, hingga memanfaatkan fitur pemantauan proses belajar siswa.
Tidak hanya menjadi ajang transfer teknologi, kegiatan tersebut juga menjadi forum diskusi antara pengembang dan pihak sekolah. Melalui diskusi tersebut, berbagai masukan dari guru digunakan untuk menyempurnakan fitur-fitur EDUKASIH agar semakin sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di lapangan.
Pihak SLB Negeri Cinta Asih Soreang menyambut positif kehadiran platform EDUKASIH. Menurut para pendidik, media pembelajaran digital yang adaptif seperti ini dapat membantu guru menyediakan materi secara lebih fleksibel dan memungkinkan siswa mengakses pembelajaran berulang kali sesuai kebutuhan.
Selain mendukung proses belajar di sekolah, EDUKASIH juga memiliki potensi untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Dengan sistem berbasis website, siswa dapat mengakses materi dari rumah dengan pendampingan orang tua, sehingga proses penguatan pembelajaran dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Tim pengabdian berharap program ini tidak berhenti pada peluncuran produk digital semata. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang melalui peningkatan kapasitas guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran secara mandiri.
Ke depan, EDUKASIH masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut, baik dari sisi konten pembelajaran, fitur pendukung, maupun variasi aktivitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik Down Syndrome.
Kolaborasi antara Universitas Telkom, UIN Sunan Kudus, dan SLB Negeri Cinta Asih Soreang menjadi contoh nyata bagaimana sinergi perguruan tinggi dan institusi pendidikan dapat menghadirkan solusi inovatif bagi dunia pendidikan inklusif. Melalui pengembangan EDUKASIH, diharapkan kualitas pembelajaran bagi anak Down Syndrome, khususnya pada jenjang SMP–SMA, dapat terus meningkat seiring pemanfaatan teknologi yang semakin adaptif dan ramah bagi seluruh peserta didik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!