Tekanan Trump Warnai Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa

ED
Rabu, 18 Februari 2026 | 14:04 WIB
Bagikan
Tekanan Trump Warnai Perundingan Damai Ukraina-Rusia di Jenewa
1" data-turn-id="request-698fc42f-6f14-8320-abd2-0943c8d35a0e-13" data-testid="conversation-turn-4" data-scroll-anchor="true" data-turn="assistant">

VISI.NEWS \ BANDUNG - Ukraina dan Rusia menyelesaikan hari pertama perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat di Jenewa, Swiss, Selasa (17/2), di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Kyiv segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung empat tahun.

Perundingan ini berlangsung di saat situasi di medan perang masih memanas. Menjelang pembicaraan di Swiss, Rusia melancarkan serangan udara semalam ke berbagai wilayah Ukraina, termasuk merusak parah jaringan listrik di kota pelabuhan Odesa di selatan. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan puluhan ribu warga kehilangan akses pemanas dan air akibat serangan tersebut.

“Kami siap bergerak cepat menuju kesepakatan yang layak untuk mengakhiri perang,” kata Zelenskyy dalam pidato malamnya, seraya menambahkan bahwa ia masih menunggu laporan lengkap dari tim negosiasi Ukraina di Jenewa.

“Pertanyaannya untuk Rusia adalah: sebenarnya apa yang mereka inginkan?”

Delegasi Ukraina dipimpin oleh Rustem Umerov, yang kini menjabat sebagai kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional. Dalam pernyataan resminya, Umerov menyebut pembahasan hari pertama difokuskan pada “isu-isu praktis dan mekanisme kemungkinan keputusan”, tanpa merinci substansi pembicaraan. Ia memastikan perundingan akan dilanjutkan pada Rabu untuk hari kedua sekaligus terakhir.

Dari pihak Rusia, tidak ada komentar resmi yang disampaikan. Namun kantor berita Rusia mengutip sumber yang menyebut pembicaraan berlangsung “sangat tegang” dan memakan waktu hingga enam jam dalam format bilateral maupun trilateral. Kedua pihak disebut sepakat melanjutkan diskusi.

Pertemuan di Jenewa ini menyusul dua putaran pembicaraan sebelumnya yang dimediasi AS di Abu Dhabi, yang berakhir tanpa terobosan berarti karena perbedaan tajam terkait isu-isu utama, termasuk kendali wilayah di Ukraina timur. Moskow menuntut agar Kyiv menyerahkan sisa 20 persen wilayah Donetsk yang belum berhasil direbut Rusia, tuntutan yang secara tegas ditolak Ukraina.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.