Tata Terminal Cicaheum, Farhan Intensifkan Dialog dengan Pedagang dan Operator Angkutan
Terminal Cicaheum./visi.news/Pemprov Jabar.
VISI.NEWS | BANDUNG - Penataan Terminal Cicaheum yang tengah disiapkan Pemerintah Kota Bandung menunjukkan bahwa transformasi transportasi publik tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut pengelolaan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat yang terdampak. Karena itu, pendekatan dialog yang diambil Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjadi bagian penting dalam proses menuju sistem transportasi yang lebih terintegrasi.
Rencana pengembangan Bus Rapid Transit atau BRT di Bandung Raya membawa konsekuensi perubahan terhadap pola operasional angkutan umum yang selama ini berpusat di Terminal Cicaheum. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran dari pedagang maupun operator kendaraan umum yang menggantungkan aktivitas ekonominya di kawasan tersebut.
“Kami terus berdialog dengan para pedagang maupun operator kendaraan umum yang ada di Cicaheum. Tentu perlu ada penyesuaian, dan penyesuaian itu sedang dilakukan agar skenario yang disusun dalam kerangka BRT ini bisa didukung oleh semua pihak,” kata Farhan dalam keterangannya dikutip, Selasa (2/6/2026).
Dalam konteks pembangunan transportasi perkotaan, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis, tetapi juga penerimaan masyarakat. Pemerintah Kota Bandung tampaknya berupaya menghindari potensi gejolak yang kerap muncul dalam proses penataan kawasan transportasi dengan membuka ruang komunikasi bagi kelompok yang terdampak.
“Ini persoalan dialog. Bagaimana caranya kita bisa berdialog dan mencari titik temu agar semua pihak dapat memahami tujuan besar dari pengembangan sistem transportasi ini,” ujarnya.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah masa depan angkutan kota. Selama ini, muncul kekhawatiran bahwa kehadiran BRT akan mengurangi peran angkot. Namun Farhan menegaskan bahwa angkot tetap akan menjadi bagian dari sistem transportasi baru.
“Angkot bukan dipindahkan. Dalam konsep BRT nanti, angkot akan berfungsi sebagai feeder yang terus bersirkulasi menghubungkan kawasan permukiman dengan koridor utama transportasi massal,” jelasnya.
Meski demikian, terkait besaran dan mekanisme kompensasi, Farhan menyebut hal tersebut masih menjadi kewenangan teknis Dinas Perhubungan dan instansi terkait yang saat ini sedang melakukan pembahasan lebih lanjut.
“Ada skema kompensasi yang sedang disiapkan. Untuk detail nilai dan mekanismenya tentu akan dijelaskan oleh dinas terkait yang menangani langsung,” katanya.
Farhan berharap seluruh proses penataan Terminal Cicaheum dapat berjalan lancar dan memperoleh dukungan dari seluruh pihak.
Ia menilai pengembangan sistem transportasi publik yang terintegrasi merupakan kebutuhan mendesak bagi Bandung Raya untuk mengatasi kemacetan, meningkatkan efisiensi perjalanan, serta memperkuat konektivitas antarwilayah.
“Tujuan akhirnya adalah menghadirkan sistem transportasi yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih terintegrasi bagi masyarakat. Karena itu kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mendukung proses ini,” pungkasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!