Stafsus Komdigi Raline Shah Ingatkan Bahaya Judi Online bagi Generasi Muda
VISI.NEWS | JAKARTA - Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Implementasi PP Tunas bertema 'Gerakan Edukasi Perlindungan Anak di Era Digital' di Aula SMKN 7 Medan, Sumatera Utara pada Selasa (10/3/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat literasi digital sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak di ruang digital. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Dewi mewakili Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media.
Dalam sambutannya disampaikan bahwa transformasi digital harus berjalan seiring dengan upaya perlindungan generasi muda dari berbagai risiko yang muncul di ruang digital. Pemerintah melalui Komdigi terus mendorong implementasi kebijakan perlindungan anak melalui PP Tunas agar ruang digital Indonesia menjadi lebih aman dan sehat bagi anak-anak.
Acara ini menghadirkan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital, Raline Shah, yang menyampaikan dialog interaktif mengenai sosialisasi bahaya judi online, sebuah isu yang semakin mengkhawatirkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Dalam paparannya, Raline Shah menekankan bahwa judi online kerap menyasar generasi muda melalui berbagai cara yang tampak seperti permainan biasa. Ia menjelaskan bahwa banyak platform menggunakan tampilan visual yang menarik dan mekanisme permainan layaknya game sehingga sering kali tidak disadari sebagai bentuk perjudian.
“Banyak orang menganggap judi online hanya sekadar permainan digital atau hiburan. Padahal di balik itu terdapat sistem yang dirancang untuk membuat pemain terus kembali bermain,” ungkap Raline.
Ia menjelaskan bahwa salah satu modus yang paling sering digunakan adalah iklan agresif di media sosial, pemberian bonus kemenangan di awal permainan, serta penyebaran tautan melalui grup pesan instan seperti WhatsApp atau Telegram dengan janji keuntungan cepat. Strategi ini membuat banyak pengguna, terutama generasi muda, terjebak tanpa menyadari risiko yang sebenarnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!