SOSOK | TPIHI Kloter 5 Widayanti: Banyak Perbaikan Pelayanan
- Jemaah haji Indonesia khususnya yang berasal dari Kabupaten Bandung tengah menjalankan rangkaian ibadah di Kota Mekkah, Arab Saudi, di bawah cuaca cukup terik dengan penuh khidmat. Ustadz Muslihudin melaporkan langsung dari tanah suci perjalanan ibadah haji tahun ini. Berikut laporannya.
VISI.NEWS | MEKKAH – Nama Widayanti mencuat sebagai sebagai Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter (KJT) 5 Embarkasi Kertajati dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025. Wanita kelahiran Purwakarta, 23 Oktober 1978 ini, merupakan sosok tangguh yang berdomisili di Jl. Purnawarman Timur Gang Sekolah SD, RT 31 RW 05 Kelurahan Sindangkasih, Purwakarta. Ia dipercaya mendampingi 445 jemaah haji asal Jawa Barat menuju tanah suci.
Didampingi empat petugas kloter lainnya, termasuk TPHI dan dua TKH, Widayanti memimpin Kloter 5 yang diberangkatkan dari Bandara Internasional Kertajati, Indramayu, pada Rabu, 7 Mei 2025. Kloter ini terdiri dari 437 jemaah haji reguler, dengan usia termuda 20 tahun dan tertua 85 tahun. Mereka tiba di Madinah dalam penerbangan yang berjalan lancar, sekitar 10 jam perjalanan dari Indonesia.
Namun, ketenangan perjalanan sempat terusik sesampainya di Bandara Madinah. Saat proses imigrasi berlangsung, salah seorang jemaah diketahui kehilangan paspornya. Diduga paspor tersebut terjatuh saat berada di dalam pesawat. Situasi pun menjadi tegang karena tanpa paspor, jemaah tidak bisa memasuki wilayah Arab Saudi secara resmi.
Dengan sigap, Widayanti mengambil tindakan cepat. “Saya harus memberanikan diri berbicara langsung kepada staf bandara. Karena saya tidak fasih berbahasa Arab, saya menggunakan bahasa Inggris, dan Alhamdulillah mereka bisa berkomunikasi dengan baik,” ujarnya. Setelah proses pencarian cukup lama, paspor akhirnya ditemukan. “Jemaah itu menangis bersyukur, dan saya ikut bahagia melihatnya,” kenangnya haru.
Tak hanya itu, pengalaman lain yang menegangkan juga dialami saat seorang jemaah sakit terpisah dari suaminya yang membawa paspor. Widayanti kembali turun tangan menjelaskan kepada petugas imigrasi dan akhirnya berhasil menyelesaikan masalah tersebut. “Semua bisa berjalan dengan baik, semua karena pertolongan Allah,” ucapnya penuh syukur.
Setiba di Mekkah, jemaah diinapkan di Hotel Burj Al Wahdah Al Mumtamayiz, yang berjarak sekitar 4,1 km dari Masjidil Haram. Waktu tempuh sekitar 10 menit menggunakan bus sholawat, dan dilanjutkan jalan kaki sejauh 1 km dari terminal ke Masjidil Haram. Di kota suci ini, jemaah melaksanakan umrah wajib, shalat berjamaah di Masjidil Haram, serta mengikuti ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Gua Hira, Gua Tsur, dan Masjid Aisyah.
Sebagai TPIHI, Widayanti juga menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan haji tahun ini. Menurutnya, ada banyak perbaikan dan inovasi dalam pelayanan, meskipun masih ditemukan sejumlah tantangan dalam hal fasilitas dan koordinasi di lapangan. “Yang terpenting, kami bisa mendampingi jemaah dengan amanah dan penuh keikhlasan,” tuturnya.
Di tengah kesibukannya sebagai petugas haji, Widayanti tetap mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Ibu dari seorang putri yang cantik ini mengatakan bahwa keluarga baginya yang utama. “Keluarga adalah sumber kekuatan saya,” katanya.
Pengalaman di Tanah Suci tahun ini menjadi catatan penting dalam perjalanan hidupnya. Tidak hanya sebagai petugas, namun juga sebagai manusia yang belajar tentang sabar, sigap, dan tulus membantu sesama. “Semoga semua jemaah menjadi haji yang mabrur, dan saya bisa terus mengabdi dalam pelayanan terbaik,” tutup Widayanti.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!