SOSOK | Hj. Dewi Kalingga, "Senang lihat orang lain senang"
VISI.NEWS | KAB. BANDUNG - Kalau di jalan bertemu seorang ibu-ibu bersepeda dengan renyah dan mengajak semua orang jajan bareng, kemungkinan besar itu Hj. Dewi Kalingga. Ia sangat dermawan dan semua aktifitasnya diniatkan semata-mata untuk ibadah. "Saya senang kalau melihat orang lain senang," ujarnya di sela-sela perayaan "4th Anniversary" Komunitas Gowes yang didirikannya D'Mantog di tempat wisata Mega Tutugan, Arjasari, Kabupaten Bandung, Minggu (27/4/2025).
Lahir di Bojongloa, Kota Bandung, pada 19 Agustus 1978 — di tangan dingin Bidan Lusi — Hj. Dewi dibesarkan dalam keluarga sederhana dengan penuh kehangatan. Anak ketiga dari delapan bersaudara putri pasangan Almarhum Bapak Mamat dan Almarhumah Ibu Uum Umayah ini sejak kecil sudah terbiasa hidup susah. Jadi daya juangnya jangan ditanya.
Masa kecil Dewi penuh warna: dari SD Simpang Baru, lanjut SMP Katapang, lalu SMA Margahayu, dan lulusnya di SMA 10 November — tercatat sebagai alumnus SMA Kota Bandung. Setelah itu, menyelesaikan kuliah di LP31 Manajemen TI sambil mulai usaha kecil-kecilan jualan jahe. Modal nekat? Tentu saja. Modal penampilan? Jelas bukan.
Ibu dari empat anak ini bukan tipe yang betah duduk diam di kursi kantor sambil main stapler. Ia sempat bekerja ikut orang, tapi panggilan hati buat jadi "juragan" terlalu kuat. Dari jahe biasa sampai jahe gajah, semua pernah ia kelola, bahkan sebelum jahe jadi selebritas rempah karena pandemi. Ilmu bisnisnya ia timba dari pengusaha-pengusaha hasil bumi yang handal macam Haji Rahmat dan Haji Deden — dua sosok yang kalau ngobrol bisnis, kayak lagi adu jualan di pasar.
Bisnis jahe Dewi sempat "offside" dulu, nyasar ke konstruksi dan kayu-kayuan. Tapi ternyata, aroma jahe lebih kuat daripada bau serbuk kayu, jadi ia balik lagi ke rempah favoritnya. Kini, ekspor jahenya melanglang buana: dari Pakistan sampai India, dari padang pasir ke pelataran mesjid. Semua negara yang doyan teh jahe, kemungkinan besar pernah minum jahe dari PT Kalingga Mandiri miliknya.
Berkat melonjaknya nilai dolar sekarang ini, bisnis Dewi ikut melesat bak sepeda gowes di tanjakan. Ia tak pelit berbagi, malah justru merasa bahagia saat bisa bantu petani naik kelas. "Kalau saya naik, petani harus naik juga," tandasnya. Masa ia di sepeda balap, petaninya di sepeda onthel.
Tapi sukses bisnis bukan alasan Dewi melupakan hidup sehat. Maka, lahirlah dari tangannya Komunitas Gowes D'Mantog — singkatan dari "Manjat Tanjakan Oke Gusti" (ya, kurang lebih begitu).
Didirikan pada 27 Maret 2020, komunitas ini anggotanya pas 27 orang. Kenapa 27? Biar gampang ingatnya, kayak ulang tahun. Kalau ada yang pensiun, langsung diganti anaknya. "Sistem regenerasi jalan terus, kayak rantai sepeda," ujar Dewi, serius tapi senyum.
Gowes bareng bukan cuma buat sehat, tapi juga berbagi. Setiap hari, target minimal seribu pedal harus tercapai. Di tengah perjalanan, siapa pun yang butuh bantuan — mau itu tambal ban bocor atau butuh bantuan dapur umum — Komunitas Mantog siap menyambut dengan tawa dan tenaga. Gowes ala Dewi itu bawa semangat, bukan sekadar keringat. Sebelumnya, ia biasa berbagi untuk mesjid atau madrasah sambil gowes dengan komunitasnya.
Kepedulian Dewi tumbuh dari masa kecilnya yang sederhana. Hidup pas-pasan mengajarkannya satu filosofi: kalau lagi rejekian, ingatlah untuk bagi-bagi. Rejeki itu kayak jahe, makin dibagi, makin anget.
Dalam bisnis, prinsipnya sederhana: tiap laba ada hak orang lain. "Ngasih itu bukan beban, malah bikin happy," ujarnya. Katanya, melihat orang lain tersenyum lebih nikmat daripada melihat saldo rekening. (Meskipun, kalau saldo nambah juga siapa sih yang nolak?)
Hj. Dewi Kalingga memang beda. Di tangannya, jahe bisa mendunia, petani bisa makmur, komunitas gowes bisa selalu penuh tawa. Dan yang paling penting: di mana ada Dewi, suasana selalu hidup. Kayak ada sound system pesta kawinan yang ngikutin, lengkap dengan MC dan doorprize.
@aep s abdullah
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!