SOSOK | Gagan Wirahma, Ketua KBA SMAN Cimindi-13 2020–2025, Berikut Profil Lengkapnya
Ia bahkan pernah memimpin LSM di bidang pendidikan dan pertanian. Dunia komunitas motor pun tak luput dari kegemarannya: Cihanjuang Touring Mencari Berkah, Baligos, hingga Berkahood pernah menjadi ruang berkumpulnya Gagan bersama para penggemar roda dua.
Perjalanan menjadi kepala desa dimulai pada tahun 2008. Saat itu, ia didorong oleh rekan-rekan Karang Taruna untuk maju sebagai calon dari kalangan pemuda. “Saya sedang terpuruk waktu itu, usaha pun sedang susah,” kenangnya. Tetapi rezeki berkata lain. Dengan modal hanya 15 juta rupiah untuk menjamu tamu dua hari menjelang pencoblosan, ia justru menang dengan dukungan besar masyarakat.
Kisah itu berulang pada periode kedua dan ketiga. “Orang-orang mungkin tidak percaya,” katanya sambil tersenyum. Periode kedua ia hanya mengeluarkan sekitar 30 juta rupiah, sementara periode ketiga sekitar 50–60 juta rupiah. Hasilnya? Ia kembali menang telak: 93%, 92%, dan di periode ketiga lebih dari 90% suara.
Baginya, tak ada rahasia besar. “Saya orang asli sana. Orang yang lahir dan besar di Cianjuang,” ucapnya. Ia hadir di tengah masyarakat bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai tetangga, saudara, dan teman. Setiap kali ada musibah—warga meninggal, ada kesulitan, ada yang sakit—Gagan berusaha hadir lebih dulu. “Kehadiran itu penting,” tegasnya. Kehadiran yang membangun kepercayaan.
Transparansi Anggaran
Dalam mengelola anggaran desa, Gagan memegang teguh prinsip keterbukaan. Setiap proyek selalu dimusyawarahkan, setiap angka dijelaskan kepada masyarakat. Banner informasi hanya pendukung; yang utama adalah dialog langsung dalam musyawarah dusun hingga desa. “Masyarakat harus tahu anggaran itu dari mana, untuk apa, dan bagaimana pelaksanaannya,” katanya.
Ia paham betul bagaimana dana desa sebenarnya terlihat besar di atas kertas—misalnya Rp1,9 miliar—tetapi ketika dibagi untuk 16 RW dan berbagai prioritas lain, angkanya mengecil. Karena itu, skala prioritas dan transparansi menjadi kunci agar tidak ada kecemburuan antarwilayah. Sebagai Sekretaris APDESI Kabupaten Bandung Barat (KBB), ia tahu persis tantangan desa-desa lain, terutama di wilayah selatan, yang memiliki jalan rusak hingga 20 kilometer yang tak mungkin selesai hanya dengan dana desa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!