Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Aher Soroti Kepemimpinan Umat dan Etika Dakwah Politik
Dalam perspektif ini, politik dipahami sebagai sarana ibadah sosial. Aher juga mengulas perjalanan historis dakwah politik di Indonesia, mulai dari peran ulama dalam pergerakan nasional seperti Sarekat Islam dan Masyumi, hingga transformasinya pada era Orde Baru dan Reformasi.
Menurutnya, terjadi pergeseran penting dari politik simbolik menuju politik yang lebih substansial dan berorientasi pada nilai.
Aher juga menyoroti berbagai tantangan kepemimpinan umat kontemporer. Di antaranya adalah fragmentasi umat, polarisasi politik identitas, komodifikasi agama dalam kontestasi elektoral, serta menurunnya kepercayaan publik terhadap elite moral.
Ia juga menekankan bahwa media sosial kini menjadi ruang baru dakwah dan mobilisasi politik, namun di sisi lain menyimpan risiko hoaks, ujaran kebencian, dan penyederhanaan pesan agama. Karena itu, literasi digital dan etika dakwah siber menjadi kebutuhan mendesak.
Terkait hubungan kepemimpinan umat dan demokrasi, Aher menyampaikan bahwa kepemimpinan umat dapat berkontribusi positif terhadap demokrasi deliberatif. Ulama berperan sebagai penyeimbang kekuasaan melalui fungsi moral check and balance, sementara dakwah politik mendorong partisipasi politik yang beretika dan bertanggung jawab.
Menutup pemaparannya, Aher menegaskan bahwa kepemimpinan umat merupakan fondasi moral bagi kehidupan politik Indonesia. Dakwah politik di masa depan harus berorientasi pada etika dan kemaslahatan bersama, karena peran umat sangat menentukan kualitas demokrasi dan keutuhan bangsa. @Ihda
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!