SNIM 2026 Dorong Kebangkitan Umat Lewat Integrasi Sains dan Teknologi
Sementara itu, Ketua HILMI Bandung, Dr. Ferli Septi Irwansyah, menyampaikan penghargaan kepada seluruh penguji, pembicara undangan, dan keynote speakers yang telah berkontribusi dalam menyukseskan acara tersebut.
Menurutnya, kehadiran para pakar dari berbagai bidang menjadi kekuatan utama SNIM 2026 dalam membangun dialog lintas disiplin yang konstruktif.
Sejumlah tokoh yang hadir sebagai keynote speakers antara lain Prof. Dr. Adiwijaya, S.Si., M.Si., pakar Teknik Informatika; Hasbi Aswar, S.IP., M.A., Ph.D., pakar Geopolitik dan Sosial-Politik Internasional; Prof. Dr. Karman, S.Ag., M.Ag., Guru Besar Tafsir Al-Qur’an UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D., pakar Bioteknologi dari Universitas YARSI; serta Dr. Arim Nasim, S.E., M.Si., Ak., CA, pakar Ekonomi Syariah dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Selain para pembicara utama, seminar juga menghadirkan sejumlah invited speakers dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya Dr. Yan yang membahas isu sosial-politik, Dr. Indra dari Universitas Islam Bandung (UNISBA), serta Dr. Andika Permadi Putra dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi panel yang dimoderatori langsung oleh Dr. Andika Permadi Putra. Pada sesi ini, para narasumber mendiskusikan arah integrasi sains, teknologi, dan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara ilmu pengetahuan modern dan nilai-nilai keislaman dalam membangun peradaban yang maju, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, para pembicara menekankan bahwa umat Islam memiliki potensi besar untuk menjadi pelaku utama dalam pengembangan teknologi dan inovasi global. Namun, hal itu harus diiringi dengan penguatan karakter, etika, dan spiritualitas agar kemajuan yang dicapai tetap memberikan manfaat bagi kemanusiaan.
HILMI berharap SNIM 2026 tidak hanya berhenti pada forum diskusi akademik, tetapi mampu melahirkan gagasan-gagasan konkret yang dapat diwujudkan melalui berbagai program lanjutan. Di antaranya melalui Focus Group Discussion (FGD), publikasi karya tulis ilmiah, pengembangan riset terapan, hingga penguatan dakwah berbasis literasi dan teknologi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!