SKETSA | Sarinah
Oleh Syakieb Sungkar
AKHIRNYA saya ke Sarinah setelah ditutup lebih dari 2 tahun untuk renovasi. Bagi saya Sarinah merupakan kenangan, demikian pula Obama. Presiden Amerika itu sangat terkesan ketika diajak mamahnya pergi ke pusat belanja Sarinah waktu masih bocah. Karena ini merupakan gedung tertinggi pertama di Indonesia. Sehingga semua orang ingin datang ke sana. Saya diajak ke Sarinah pertama kali ketika bulik (tante) yang tinggal di Solo berkunjung ke Jakarta. Itu tahun 1967. Paman saya yang angkatan laut itu bertugas sebagai guide merangkap pentraktir. Maklumlah ia dulu punya pos di Danang, Vietnam, sebagai wakil negara Indonesia untuk menjaga perdamaian, sehingga uang sakunya cukup banyak untuk membayar belanja tante di Sarinah. Seingat saya tante berbelanja cukup banyak di sana: baju dan selop. Saya sebagai keponakan yang lebih menikmati ajaibnya naik-turun lift dan eskalator ketimbang busana, kecipratan hadiah juga: sebuah miniatur mobil VW.
Kenangan saya di Sarinah secara serius sebetulnya tahun 1991, ketika boss mentraktir karena telah berhasil menyelesaikan proyeknya yang menyibukkan selama 3 tahun. Mengapa traktirnya di Sarinah, karena waktu itu pertama kali gerai hamburger McDonald ada di Indonesia. Sehingga orang berduyun-duyun ingin tahu bagaimana rasanya makan hamburger seperti di film-film buatan Amerika itu. Harga hamburger adalah Rp 5000,- per satuannya. Nilai yang cukup mahal ketika itu, termasuk makanan mewah jadinya. Ditambah Coklat Sundae sebagai makanan penutup, maka orang harus mengeluarkan uang Rp 7.000,- Sebagai perbandingan, kost bulanan mahasiswa adalah Rp 70.000,- dan gaji saya tidak sampai Rp 500.000,- Sehingga ditraktir hamburger ke Sarinah menjadi sesuatu bangets. Kenangan berikutnya adalah dibukanya Hardrock Café yang muncul di Sarinah tahun 1992. Sebelum reformasi 1998, Hardrock jadi tempat nongkrong anak-anak gaul di malam hari.
Konon sebutan Sarinah berasal dari nama pengasuh Presiden Soekarno. Bung Karno memang gemar memungut nama-nama yang merakyat agar orang Indonesia tidak ke-Barat-barat-an. Misalnya ia mengambil nama Marhaen, seorang petani mandiri, untuk mendukung konsepnya tentang sosialisme khas Indonesia, yang kemudian ia sebut pemikirannya itu menjadi Marhaenisme. Ia juga suka mengindonesiakan nama orang-orang yang dikenalnya. Misalnya, artis Maryolien Tambayong namanya diubah oleh Sekarno menjadi Rima Melati. Sehingga menginspirasi orang yang namanya ke-Barat-baratan untuk mengganti nama juga, seperti Miecke Marie De Rijder diubah menjadi Mieke Wijaya.
Pembangunan Sarinah dananya berasal dari pampasan perang Jepang senilai USD 223,08 juta pada tahun 1958. Selain Sarinah, ada beberapa proyek yang dibangun dari dana pampasan perang itu, antara lain jembatan yang melintasi Sungai Musi di Sumatera Selatan (Jembatan Ampera) yang diselesaikan pada Mei 1965 dengan biaya USD 11,78 juta. Bangunan prestisius lainnya adalah empat hotel besar yaitu di Jakarta (Hotel Indonesia ), Hotel Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, Hotel Ambarukmo di Yogyakarta dan Hotel Bali Beach di Sanur. Sarinah diresmikan tanggal 15 Agustus 1966. Sayangnya ketika itu Bung Karno sudah tidak bisa hadir karena ia terkena tahanan rumah oleh Suharto.
Hal yang mengejutkan pada saat renovasi Sarinah adalah ditemukannya relief patung batu yang tertutup tembok. Patung tersebut memunculkan spekulasi karena beberapa hal, adanya dugaan patung tersebut menggambarkan sosialisme yang menjadi ideologi idaman Soekarno sehingga harus ditutup. Patung itu bergaya kubisme, padahal kubisme merupakan aliran Barat yang dibenci oleh Realisme Sosialis di era Stalin (setelah Nikita Krushchev menjadi pemimpin Rusia, kebencian akan senirupa Barat kemudian dilonggarkan). Dan patung itu tidak jelas siapa pembuatnya. Relief berukuran 12 x 3 meter tersebut menggambarkan petani, nelayan dan perempuan yang membawa barang dagangan. Menurut dugaan, relief ini dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi gedung (1962-1966), yang menampilkan sosok para petani, nelayan dan perempuan berdagang, melambangkan perjuangan rakyat kecil mencari nafkah. Usai peristiwa kebakaran di gedung Sarinah pada tahun 1984, terjadi perombakan yang mengubah konsep dan desain Sarinah, sehingga relief tersebut tidak dimunculkan.
Setelah direnovasi oleh Menteri Erick Thohir, maka fungsi Sarinah dikembalikan sesuai aslinya yaitu mengedepankan produk dalam negeri dan UMKM. Sehingga gerai luar negeri seperti McDonald harus hengkang dari Sarinah. Sebagai gantinya, gerai-gerai yang ada harus mencerminkan karya anak bangsa seperti Suwe Ora Jamu dan Gudeg Yuk Jum asal Yogyakarta. Memang pembukaan Sarinah ini menjadi tempat baru orang Jakarta untuk exist berfoto-ria. Banyak lokasi-lokasi yang Instagramable untuk berselfie.
Saya berkunjung ke Sarinah karena hari ini ada acara pembukaan Distrik Seni, pameran senirupa di lantai 6 yang diselenggarakan oleh Heri Pemad Art Management. Ada banyak perupa kontemporer Indonesia menggelar pameran di sana, seperti Tromarama, R.E. Hartanto, Eko Nugroho, dan Sri Astari. Kualitas karyanya mirip-mirip ajang Art Jog yang biasa dihadirkan tiap tahun di Jogja National Museum, hal itu telah membuat semarak iklim senirupa di ibu kota. Selain makanan dan pakaian, memang manusia harus diberi makanan lain, yaitu pemandangan indah, inspiratif, yang menggelitik rasa. Sudahkah anda ke Sarinah tahun ini?.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!