SKETSA | Ramadan
Oleh Syakieb Sungkar
HARI ini kita akan masuk dalam bulan ke sembilan pada kalender Islam. Muhammadiyah telah menetapkan tarawih pertama di mulai pada Jumat malam, 1 April 2022. Bulan yang ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat, sinar mataharinya membakar tubuh. Karena itu Ramadan berarti panas atau menyengat. Kemudian Ramadan dimaknai dengan “bulan pembakaran dosa” atau penghapusan dosa. Dalam Al-Quran, puasa dibicarakan dengan cukup detail. Pada surat Al-Baqarah 185, Allah memberi kemudahan bagi orang yang sakit dan orang dalam perjalanan untuk tidak berpuasa dan membayar puasanya di lain waktu. Dalam surat Al-Baqarah 187, Allah membolehkan makan dan minum serta berhubungan suami istri di malam hari pada bulan Ramadan. Inti perintah ada dalam surat Al-Baqarah 183, Allah secara tegas mewajibkan orang beriman untuk berpuasa: “Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Berpuasa sudah dilakukan oleh orang Mesir Kuno, Romawi, Yahudi dan Nasrani, dengan lama, waktu, dan tata cara yang berbeda. Sementara dalam surat Al-Baqarah 185 sudah ditentukan waktunya yaitu di bulan Ramadan dan lamanya sebulan penuh. Mengapa orang sedari dulu sudah melakukan puasa karena secara ilmu pengobatan tradisional menahan makan dan minum merupakan cara menjaga kesehatan. Allah juga mewajibkan dengan menahan nafsu, sehingga di saat berpuasa tidak boleh melakukan hubungan badan. Di dalam sekolah Stoa, sekolah yang didirikan di kota Athena, Yunani, abad ke 3 sebelum Masehi, orang diajarkan untuk hidup pasrah dan bertawakal agar bisa berbahagia. Caranya dengan mengurangi energi negatif, seperti marah, sedih, stress, dan galau. Murid-murid Stoa dilatih untuk berdisiplin dalam menahan nafsu seksual, serta lapar dan haus, menjaga perilaku serta dilarang mengeluarkan perkataan buruk. Tujuan dari disiplin ini agar mendapatkan kesempurnaan secara moral maupun intelektual.
Terlihat bahwa tradisi berpuasa sudah ada sejak dahulu kala dan dilakukan juga oleh umat lain. Orang Katholik menjalankan puasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaskah sampai dengan Jumat Agung. Pantang berarti memilih pantang daging, ikan, jajan, atau rokok. Selain itu masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, misalnya berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun. Orang Kristen Protestan juga mempunyai puasanya sendiri, ada Puasa Musa, Puasa Ester, Puasa Daniel, dan Puasa Niniwe. Orang Budha melakukan puasa pada hari Uposatha, yaitu pada tanggal 1, 8, 15 dan 22. Sedangkan orang Hindu melakukan puasa pada saat merayakan Nyepi.
Menurut Quraish Shihab, puasa tidak hanya sekedar menahan hawa nafsu, tetapi ibadah itu seharusnya berakhir dengan tercerminnya semua sifat Allah – kecuali sifat Ketuhanan-Nya – dalam kepribadian seseorang karena berpuasa adalah upaya untuk meneladani sifat-sifat Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia sebagai makhluk. Dengan upaya meneladani sifat-sifat Tuhan, seseorang yang berpuasa melatih dan mendidik dirinya untuk meraih aneka kecerdasan, melalui potensi-potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Yaitu kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Selamat berpuasa, semoga kita menjadi manusia yang lebih baik ketika bulan Ramadan berakhir.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!